Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Foto pengamatan visual BPPTKG menunjukkan guguran awan panas di Gunung Merapi, Kamis (25/1/2024). - ist/BPPTKG
Harianjogja.com, SLEMAN—Aktivitas Gunung Merapi dalam sepekan terakhir terpantau masih cukup tinggi. Guguran lava dan kegempaan terjadi ratusan kali, walau tidak teramati awan panas. Aktivitas ini membuat morfologi kubah lava berubah.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menjelaskan dari pengamatan 23-29 Februari 2024, cuaca di sekitar Gunung Merapi umumnya cerah pada pagi hari, sedangkan siang hingga malam hari berkabut.
BACA JUGA : Erupsi Gunung Merapi, Hari Ini Luncurkan Lima Kali Guguran Lava ke Dua Sungai
“Pada pekan ini guguran lava teramati sebanyak 139 kali ke arah barat daya atau hulu Kali Bebeng sejauh maksimal 1.600 meter. Suara guguran terdengar dua kali dari Pos Babadan dengan intensitas kecil hingga sedang,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/3/2024).
Morfologi kubah barat daya teramati adanya perubahan akibat adanya aktivitas awanpanas guguran dan guguran lava. Sedangkan morfologi kubah tengah relatif tetap. “Berdasarkan analisis foto udara tanggal 10 Januari 2024, volume kubah barat daya terukur sebesar 2.663.300 meter kubik dan kubah tengah sebesar 2.358.400 meter kubik,” katanya.
Pada aktivitas kegempaan, BPPTKG mencatat pekan ini terjadi 94 kali gempa Vulkanik Dangkal, 381 kali gempa fase banyak, tiga kali gempa frekuensi rendah, 393 kali gempa guguran dan 14 kali gempa tektonik. “Intensitas kegempaan pada pekan ini lebih tinggi dibandingkan pekan lalu,” ungkapnya.
BACA JUGA : Objek Wisata Lereng Merapi Disebut Masih Aman Dikunjungi Saat Libur Nataru
Dari data ini, disimpulkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas ditetapkan dalam tingkat Siaga dengan potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas
“Pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Bantul lanjutkan restorasi Gumuk Pasir Parangkusumo dengan penebangan vegetasi demi mengembalikan fungsi alami kawasan langka.
Prof Dante tegaskan obesitas adalah penyakit serius yang meningkatkan risiko jantung dan kanker, perlu penanganan menyeluruh.
BRIN dorong pembahasan RUU Pemilu dipercepat agar Pemilu 2029 berjalan berkualitas dan sesuai tahapan.
Fadli Zon dorong Museum Pos Indonesia di Bandung jadi cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang penting bagi bangsa.
KPK menetapkan Bupati Langkat Syah Afandin sebagai tersangka OTT terkait suap proyek dan gratifikasi senilai Rp3,5 miliar.