Fakta Janggal Temuan 11 Bayi di Pakem Sleman, KPAI Buka Suara
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Gejala Antraks - ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul menyampaikan bahwa perlu banyak pertimbangan utamanya bagi kepala daerah seperti Bupati untuk menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) Antraks.
Plt Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan pertimbangan dalam menetapkan KLB Antraks tidak hanya terkait dengan kesehatan namun juga pengaruhnya terhadap sektor lain utamanya ekonomi.
“Dulu waktu kasusnya masih banyak kami pernah mengusulkan [KLB Antraks]. Kalau kali ini perlu banyak pertimbangan. Pak Bupati pasti juga mempertimbangkan pengaruhnya dengan ekonomi, mungkin pertimbangannya beliau begitu. Oh ini sudah ditangani [antraksnya]. Banyak sekali pertimbangannya,” kata Dewi ditemui di kantornya, Kamis (14/3/2024).
Terlepas dari perlu dan tidaknya KLB Antraks, Dewi menyampaikan bahwa hal yang perlu dipahami dan dilakukan adalah menghindari praktik brandu. Selain perkara kesehatan, brandu yang menyebabkan penyebaran bakteri antraks dapat memengaruhi sektor lain seperti pariwisata.
Tiga hal pokok dalam mencegah munculnya antraks menurut dia adalah hewan sehat tidak akan menyebabkan antraks. Dengan begitu penanganan utama ada pada hewan. Selain itu perilaku manusia juga perlu diatur.
“Dengan makan daging sapi atau kambing sehat maka tidak akan tertular kita itu. Perilaku orangnya jadinya,” katanya.
BACA JUGA: Dinkes Sebut Antraks di Sleman-Gunungkidul Sudah Bisa Jadi KLB
Lebih jauh, dia menerangkan ada sebanyak 53 warga Gunungkidul yang terpapar hewan ternak positif antraks baik ikut memotong daging maupun makan daging. Dari jumlah itu, sebanyak 19 warga bergejala dengan dua di antaranya yaitu S dan istrinya. Keduanya saat ini dirawat di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.
Dari 19 warga, sebanyak 17 orang di antaranya telah diambil sampel darah. Dari 17 tersebut, ada satu orang mengalami kelainan kulit dan 16 sisanya mengalami gejala diare dan demam.
“Jadi yang bergejala kulit itu dua orang satu keluarga [S dan istrinya]. Itu ditambah satu dari warga yang terpapar dengan luka di kulit khas antraks,” ucapnya.
Dewi mengaku baik S dan istrinya serta warga lain yang bergejala mengalami perkembangan kesehatan yang baik.
Sementara itu, Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul belum dapat ditemui. Ketika Harianjogja.com mendatangi kantor keduanya, mereka berada di ruangan namun belum dapat menemui.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPAI soroti kejanggalan temuan 11 bayi di Sleman. Diduga ada praktik perdagangan bayi berkedok adopsi dan penitipan anak.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.