Lumbung Mataram Kalurahan Purwosari di Kulonprogo Mengoptimalkan Pertanian dan Peternakan Warga
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Suasana pencarian dua ABK hilang oleh tim gabungan yang menyisir bibir pantai sepanjang 10 kilometer di Kulonprogo, Kamis (14/3/2024)./Harian Jogja-Triyo Handoko
Harianjogja.com, KULONPROGO—Pencarian dua anak buah kapal (ABK) di perarian selatan Kulonprogo masih belum menunjukkan hasil positif hingga Kamis sore (14/3/2024). Pencarian kedua orang yang berniat menepi setelah kapal yang ditumpanginya mati itu baru menghasilkan temuan pakaian yang diduga milik korban.
Pakaian yang ditemukan itu berupa celana dan baju. Jarak penemuan pakaian itu sepanjang 700 meter dari lokasi kapal mati milik para nelayan tersebut.
Selain pakaian, ditemukan juga pelampung jaring yang diduga milik para nelayan yang hilang itu. Lokasi penemuan pelampung jaring ikan itu justru berada di Pantai Baru, Bantul.
SAR Sigap Kulonprogo yang terjun bersama tim gabungan menyebut luasan area pencarian sepanjang 10 kilometer. Panjang area pencarian itu dimulai dari Pantai Garungan di sisi timur hingga Pantai Congot di sisi barat. "Titik tengahnya di lokasi kapal mati bersandar, terus dilakukan penyisiran hari ini tapi belum ada hasilnya," kata Koordinator SAR Sigap, Sulis, Kamis sore.
Sulis menerangkan pencarian dua orang ABK akan dilanjutkan esok hari, Jumat (15/3/2024). "Rencananya memperluas area pencarian ke timur hingga Pantai Trisik," ujarnya.
Pencarian yang mengadalakan pengejaran darat dan udara itu, jelas Sulis, perlu penambahan personil. "Mungkin karena puasa jadi yang ikut 50an orang, bisanya ada ratusan orang, tentu kami juga terus berupaya maksimal," tuturnya.
Awal mula kasus ini diketahui setelah dua orang terdampar di Pantai Glagah pada Rabu sore (13/3/2024). Dua orang itu adalah ABK yang selamat dari kapal yang mati mesin itu. Mereka berenang dari kapal yang ditumpanginya itu hanya bermodal pelampung kecil. "Korban lalu dibawa ke Rumah Sakit Amalia Temon," jelas Kasi Humas Polres Kulonprogo, AKP Triatmi Noviartuti pada Kamis siang.
Keterangan dua korban itu, jelas Novi, kapal sudah mati selama enam hari. Diketahui juga asal para nelayan itu dari Banten. "Berangkat Kamis tanggal 7 Maret pukul 14.00 Wib dari pelabuhan lelang ikan wilayah Banten, pada saat berlayar ke empat korban hendak mencari ikan namun setelah menebar jaring terjadi angin besar dan ombak besar," jelasnya.
Dari empat orang itu, lanjut Novi, masih ada dua orang lain yang belum diketahui keberadaanya. "Para korban terjun ke laut dengan menggunakan alat pelampung dirigen namun pada saat terjun ke laut terjadi ombak besar yang mengakibatkan beberapa korban terbentur cor, karang pemecah ombak, dua orang dapat menyelamatkan diri sampai pada bibir pantai namun dua orang hanyut dan sampai saat ini belum ditemukan," terangnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Salah satu implementasi program Lumbung Mataram di Kulonprogo dilakukan Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo
Polisi ungkap penyebab kecelakaan KRL di Bekasi. Sopir taksi dinilai lalai, 16 orang tewas.
Buruh harian di Sleman nekat mencuri TV dan water heater dari kos. Pelaku kabur usai tak bayar sewa.
Banjir di Sintang Kalimantan Barat putuskan 13 jembatan gantung. Ribuan warga terdampak, distribusi bantuan terkendala.
PSIM Jogja incar 10 besar Super League. Laga penentuan lawan Arema FC jadi kunci di pekan terakhir.
Mahkamah Agung tolak PK kasus korupsi selter tsunami Lombok. Vonis 6 tahun penjara tetap berlaku.