Anggaran Dropping Air BPBD Gunungkidul Makin Menipis
Anggaran dropping air BPBD Gunungkidul diprediksi habis September. Pemkab menyiapkan opsi tambahan melalui anggaran BTT.
Ilustrasi-Seorang pengendara motor melewati lokasi sampah liar di pinggir jalan Dusun Banteng, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem./Harian Jogja
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyebut ada 14 lokasi pembuangan sampah liar di Kabupaten Sleman. Upaya pengawasan akan ditingkatkan, salah satunya dengan wacana pemasangan CCTV di sejumlah titik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Epiphana Kristiyani mengatakan, terus ada upaya dari pemkab untuk mengatasi persoalan sampah, pascaditutupnya TPA Piyungan. Upaya ini juga membutuhkan partisipasi dari Masyarakat melakukan Gerakan pemilahan maupun pengolahan sampah.
“Tanpa peran dari Masyarakat, maka pengolahan sampah tidak akan efektif,” kata Epi kepada wartawan, Kamis (9/5/2024).
Menurut dia, hingga saat ini masih ada warga yang ngeyel membuang sampah secara sembarangan. Hasil penelusuran yang dilakukan petugas terdapat 14 pembuangan sampah liar di pinggir-pinggir jalan.
Meski tidak menyebut secara rinci, Epi mengakui mayoritas lokasi pembuangan berada di wilayah perkotaan. Sedangkan untuk wilayah pedesaan terindikasi ada satu lokasi.
“Tahu sendirilah lokasinya. Itu ada di ringroad, kemudian ada juga di Jombor dan lainnya,” ungkapnya.
Guna mengatasi pembuang sampah sembarangan sudah menyiapkan skema pemasangan CCTV. Hanya saja, pemasangan tidak dilakukan sendiri karena berkerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika. “Kami tidak ada anggaran untuk pengadaan. Sudah kami petakan dan rencananya di tahap awal ada tujuh lokasi yang dipasang, tapi untuk tempatnya masih rahasia,” katanya.
BACA JUGA: Geram Sampah Liar di Pinggir Jalan, DLH Sleman Siap Pasang CCTV
Ia memastikan tetap melakukan penyisiran guna mengambil sampah-sampah yang dibuang secara sembarangan. Hal ini untuk menjaga kebersihan dan mengurangi potensi penyebaran penyakit.
“Tapi tidak bisa setiap hari karena truk yang dimiliki beroperasi untuk pengambilan secara rutin. Paling tidak, setiap seminggu sekali, kami lakukan penyisiran untuk kemudian diolah di TPST Tamanmartani atau Minggir,” katanya.
Pihaknya siap memberikan sanksi yang dapat memberikan efek jera bagi warga pembuang sampah sembarangan. Ia tidak menampik sudah ada Perda No.6/2023 tentang Penyelenggaraan Pengolahan Sampah.
“Memang ada sanksinya bagi pembuang sembarangan diancam tiga bulan penjara dan denda paling banyak Rp50 juta. Tapi, kami siapkan sanksi lain seperti pelaku disuruh membersihkan di lokasi pembuangan atau koordinasi dengan kapanewon agar menyapu di lokasi yang sekiranya kotor selama seminggu sehingga benar bisa membuat jera,” katanya.
Sebelumnya, Kepala Satpol PP Sleman, Shavitri Nurmala Dewi mengatakan, sudah beberapa kali melakukan patrol terkait dengan pembuangan sampah secara sembarangan pada saat Puasa. Upaya ini akan terus dilakukan sehingga Masyarakat bisa tertib dapat membuang sampah seperti ketentuan yang diberlakukan.
Pihaknya memiliki andil dalam upaya pengelolaan sampah. Hal ini tak lepas dari ketugasan dari Satpol PP untuk penegakkan perda. “Khusus pengelolaan sampah dituangkan dalam Perda No.6/2023 yang diperkuat dalam perbup sehingga hasilnya dapat dimaksimalkan. Untuk pencegahan, kami juga sudah memasang spanduk peringatan di lokasi-lokasi pembuangan sampah sembarangan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran dropping air BPBD Gunungkidul diprediksi habis September. Pemkab menyiapkan opsi tambahan melalui anggaran BTT.
Kabut asap karhutla menyelimuti enam wilayah Sumbar akibat kiriman dari provinsi tetangga. Warga diminta memakai masker dan membatasi aktivitas luar.
Cuaca DIY 25 Agustus 2026 diprediksi cerah. BMKG mengingatkan warga mewaspadai panas dan risiko kebakaran lahan.
PWI DIY bersama Tim Ad Hoc menemui Bupati Bantul untuk mendorong pengusulan wartawan Udin sebagai Pahlawan Nasional.
Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW bermula beberapa abad setelah wafatnya Rasulullah dan berkembang menjadi tradisi umat Islam di Indonesia.
Pakar ULM mengingatkan bahaya kabut asap karhutla dan membagikan enam langkah melindungi diri dari paparan PM2.5.