Tren Kebakaran Lahan di Sleman Fluktuatif, Kemarau Jadi Pemicu
Tren kebakaran lahan di Sleman selama sembilan tahun terakhir menunjukkan pola fluktuatif. Musim kemarau panjang menjadi salah satu pemicu utama lonjakan kasus
Beberapa kapal sedang terparkir di Pelabuhan Pantai Sadeng, Kalurahan Songbayu, Girisubo, Gunungkidul, Senin (24/6/2024). Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pasokan es balok untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan nelayan di Gunungkidul berkurang drastis. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada tingginya pembusukan ikan di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan pabrik es balok di Kalurahan Siraman, Wonosari belum mampu mencukupi kebutuhan nelayan di Gunungkidul. Adapun ruang penyimpanan ikan di Gunungkidul tersebar di sepanjang pantai mulai dari Pelabuhan Gesing hingga Sadeng.
Mesin Rusak
Pabrik es balok di Kalurahan Siraman tersebut selama ini dikelola oleh Pemkab Gunungkidul dan dibangun pada 2009 menggunakan dana alokasi khusus (DAK) Kementerian Kelautan dan Perikanan (DKP). Namun demikian, mesin produksi es di pabrik tersebut rusak.
Pada 2025, DKP Gunungkidul akan mengupayakan perbaikan pada mesin produksi es dan merehabilitas bangunan. DKP juga akan mengupayakan pengadaan mesin produksi es batu melalui dana keistimewaan.
Dengan begitu, kapasitas produksi es dapat bertambah karena hingga sekarang, pasokan es balok untuk ikan masih disuplai dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur dan Klaten, Jawa Tengah.
"Sebenarnya, sempat ada investor yang berencana membangun pabrik es balok di Pantai Sadeng. Hanya, mereka terkendala oleh peruntukan lokasi yang masuk dalam Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK)," katanya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul, Rujimanto membenarkan suplai es balok dari Kabupaten Pacitan belum dapat mencukupi kebutuhan es balok. Persoalan ini terjadi sejak lama.
“DKP Gunungkidul juga ada pabrik es, tapi kecil. Kalau pas panen ikan, es balok itu tidak mencukupi kebutuhan,” kata Rujimanto.
Rujimanto mengaku ada ikan yang membusuk di ruang penyimpanan Pantai Sadeng. Hanya, dia belum memiliki data tonase ikan yang membusuk.
Wakil Bupati Gunungkidul, Heri Susanto, dalam unggahan di akun instagramnya @herisusanto.official tertanggal 28 Juni 2024 mendapat keluhan perwakilan nelayan Sadeng ihwal pembusukan ikan tangkapan, karena pasokan es balok dari Kabupaten Pacitan minim dan sering terlambat datang.
Akhirnya, ikan yang mulai membusuk itu dijual dengan harga Rp2.000 per kilogram (kg). Dia berharap ada pembangunan cold storage/ gudang pendingin untuk memfasilitasi kebutuhan nelayan yang dapat memproduksi ikan rata-rata 70 ton per hari.
Menurut Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Gunungkidul, Wahid Supriyadi, gudang pendingin ini merupakan fasilitas di Pelabuhan Perikanan Pantai Sadeng yang berada di bawah pengelolaan DKP DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tren kebakaran lahan di Sleman selama sembilan tahun terakhir menunjukkan pola fluktuatif. Musim kemarau panjang menjadi salah satu pemicu utama lonjakan kasus
Perbaikan 256 RTLH di Gunungkidul ditargetkan selesai akhir Agustus 2026. Hingga akhir Juli, 101 rumah telah rampung dibangun.
Presiden Prabowo menegaskan Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri nonblok di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
BI menyiapkan GPIPS untuk memperkuat pengendalian inflasi pangan dan menjaga stabilitas harga melalui penguatan produksi serta distribusi.
Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi di Banyumas ditargetkan dimulai Oktober 2026 dan mulai beroperasi pada tahun depan.
KPU Kulonprogo menyiapkan kurikulum demokrasi yang terintegrasi dalam mata pelajaran Pancasila atau PKN di sekolah dan madrasah.