Advertisement
Kekeringan Kian Parah di Gunungkidul, Layanan Air Bersih PDAM Dibatasi
Ilustrasi. - Antara foto/ Okky Lukmansyah
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Musim kemarau di Bumi Handayani membuat sebagian besar wilayah mengalami krisis air, seperti di Kapanewon Saptosari dan Purwosari yang berada di pesisir selatan Gunungkidul. Di Saptosari krisis air diperparah dengan pembatasan layanan air dari PDAM.
Panewu Saptosari, Eka Prayitno menjelaskan pembatasan layanan air bersih ini menyebabkan peningkatan dampak krisis air sebesar 30%. Akibatnya permintaan droping air dari warga juga meningkat sebanyak 30%.
BACA JUGA : Belasan Hektare Lahan Pertanian di Kulonprogo Berpotensi Kekeringan
Advertisement
Pembatasan layanan air ini, jelas Eka, terjadi saat kemarau ini yang menyebabkan warga Saptosari mesti antri mendapat jatah aliran emas biru tersebut. "Kalau keluarga pelanggan air PDAM memiliki tampungan besar dapat menyimpan air lebih banyak, kalau yang tampungannya kecil maka kebanyakan minta droping air untuk memenuhi kebutuhan," terangnya, Selasa (20/8/2024).
Eka menjelaskan meskipun terdapat pembatasan jam operasional layanan air tapi tidak ada pembatasan volume debit. Ia menyebut seluruh kelurahan di Saptosari setidaknya terdapat satu padukuhan yang mengalami krisis air.
Sementara di Kapanewon Purwosari krisis air terjadi di dua kalurahan, yaitu Giricahyo dan Giripurwo. Warga di dua kalurahan ini kebanyakan mengatasi kekeringan dengan membeli air secara mandiri.
Panewu Purwosari, Baryono Buang Prasetyo menjelaskan harga untuk beli air vareatif tergantung lokasi pengiriman. Harga untuk pengiriman air yang lokasinya jauh sekitar Rp150 ribu per tangki, sedangkan lokasi yang pengirimannya dekat adalah Rp130 ribu. "Satu tangki sekitar 5.000 liter," tuturnya.
Baryono menyebut satu tangki air dapat digunakan warganya untuk satu minggu hingga satu bulan. "Habsinya tergantu penggunaan, untuk keluarga yang besar bisa satu minggu sedangkan keluarga kecil bisa satu bulan untuk satu tangki air ini," paparnya.
Pembelian air di Purwosari ini, sambung Baryono, dipergunakan untuk seluruh kebutuhan dari konsumsi, mandi dan cuci, sampai untuk minum hewan ternaknya. "Kami juga koordinasi dengan BPBD Gunungkidul, supaya dapat membantu untuk warga yang mengalami krisis air khususnya kelompok keluarga tidak mampu," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Gempa Magnitudo 5,7 Terjadi di Tuapejat Mentawai, Picu Kepanikan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement






