Lurah se-DIY Diperkuat, Sultan Minta Dana Desa Bebas Korupsi
Sultan HB X tekankan transparansi dan akuntabilitas dana kalurahan di Jogja. Lurah diminta cegah korupsi dan tingkatkan kesejahteraan.
Kekeringan - Ilustrasi StockCake
Harianjogja,com, KULONPROGO—Pemkab Kulonprogo mencatat kekeringan yang mulai terjadi di beberapa wilayah. Di sektor pertanian, ada sebanyak 13 hektare lahan pertanian yang tersebar di dua kapanewon berpotensi kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pantan (DPP) Kulonprogo, Drajat Purbadi, menjelaskan saat ini, untuk sektor pertanian belum ada laporan kekeringan yang sudah terjadi. “Kalau kekeringan belum, artinya belum terjadi,” ujarnya, saat dihubungi, Senin (19/8/2024).
Meski demikian, pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Totalnya ada sebanyak 13 hektare lahan kekeringan yang berpotensi kekeringan. “Sembilan hektare di Galur dan empat hektare di Temon,” katanya.
Belasan hektare lahan pertanian tersebut memiliki potensi kekeringan disebabkan posisinya yang berada di ujung atau wilayah petit dari saluran irigasi Kalibawang.
“Kalau mau musim tanam biasanya lahan dibasahi, sehingga membutuhkan air banyak. Jadi terkadang yang di daerah petit atau ujung irigasi ga kebagian,” ungkapnya.
Meski demikian, untuk saat ini kekeringan belum terjadi karena debit air dari saluran irigasi masih mencukupi kebutuhan pertanian.
“Dengan kondisi debit yang di saluran Kalibawang masih seperti sekarang, belum terjadi kekeringan. Tapi kalau umpama ada pengurangan debit, ada kemungkinan potensinya bisa terjadi kekeringan,” katanya.
Untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan, Pemkab Kulonprogo bersama Kementerian Pertanian sudah menyiapkan pompanisasi.
“Tahun ini kami memberikan bantuan pompa, ada sekitar 48, baik dari APBN maupun APBD. Salah satunya untuk wilayah yang berpotensi tersebut,” kata dia.
Di samping itu, para petani menurutnya juga sudah banyak yang memiliki pompa pribadi sehingga bisa mengantisipasi kekeringan secara mandiri. “Biasanya kalau ada kasus kekeringan langsung kita gerakkan untuk pompanisasi,” ujarnya.
Dengan pompanisasi, menurutnya sudah cukup untuk mengatasi kekeringan yang terjadi dan mencukupi kebutuhan air untuk pertanian.
“Yang paling penting ketika ada kasus di situ ada sumber airnya. Tapi juga ada yang pakai sumur bor. Kalua yang mengandalkan sumur bor biasanya masih bisa. Rata-rata petani punya,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X tekankan transparansi dan akuntabilitas dana kalurahan di Jogja. Lurah diminta cegah korupsi dan tingkatkan kesejahteraan.
Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berpeluang menjadi ekonomi terbesar keempat dunia dalam 25 tahun mendatang.
Pemda DIY mengantisipasi dampak El Nino dengan memastikan stok pangan, pengelolaan air, dan mitigasi kekeringan di wilayah rawan.
Penyempurnaan Suzuki Xl7 Resmi Meluncur, Makin Tegas Dengan Fitur Bermakna
Changan Indonesia meluncurkan Nevo Q05 di GIIAS 2026 dengan harga mulai Rp309 juta dan telah dirakit secara lokal di Purwakarta.
GIIAS 2026 menghadirkan deretan mobil baru dari Mazda, Toyota, Lexus, Suzuki, hingga Hino dengan teknologi hybrid dan EV.