SHDK Kartu Keluarga Jadi Sumber Kendala SPMB 2026 di Bantul
Disdukcapil Bantul ungkap SHDK KK jadi kendala SPMB 2026. Verifikasi tetap aman tanpa temuan pemalsuan dokumen kependudukan.
Suasana gelar budaya merti kampung Gunungketur yang dipusatkan di Jalan Suryopranoto, Pakualaman, Minggu (29/9/2024)./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Setelah puluhan tahun absen, perhelatan budaya merti kampung di Gunungketur kembali digelar tahun ini. Dipusatkan di Jalan Suryopranoto, Gunungketur, Pakualaman sebanyak enam RW dilibatkan dalam kegiatan yang digelar pada Minggu (29/9/2024) itu.
Ketua Kampung Gunungketur Endro Purnomo mengatakan, merti kampung di Gunungketur punya sejarah yang panjang. Pergelaran budaya itu sudah ada sejak 1970 an silam, tetapi vakum beberapa puluh tahun lantaran pergantian pengurus dari tingkat kempung ke level RW. "Maka tahun ini kembali kami gelar dan direncanakan bakal jadi agenda tahunan," kata Endro.
Menurutnya, merti kampung menjadi kreasi usaha budaya dan ekspresi seni dari masyarakat. Acara ini penting diselenggarakan dan dihidupkan kembali guna mengajak generasi muda untuk peduli terhadap kebudayaan lokal dan ikut serta melestarikannya. "Acara ini merupakan usulan warga melalui Musrenbang dan difasilitasi oleh kelurahan," ujar dia.
Ketua Panitia Jayantoro menyebut, ada enam RW yang ikut serta dalam acara itu yakni RW 1, 2, 3, 4, 5 dan 6.
Semuanya menampilkan pentas seni dan budaya sambil mengarak gunungan hasil bumi yang nantinya akan dibagikan kepada warga setempat. "Kami juga melibatkan UMKM dari setiap RW untuk tampil di acara ini dan semoga berdampak pada peningkatan ekonomi warga," jelasnya.
Jayantoro menjelaskan, merti kampung Gunungketur digelar sejak pagi dengan acara doa bersama di Balai Giri Arum. Masyarakat berdoa bersama atas kesehatan dan keselamatan yang dilalui selama tahun ini. Setelahnya dilakukan rayah gunungan hasil bumi.
"Kegiatan kedua pada sore hari, kami menaikkan potensi kampung berupa UMKM dan karnaval dengan mengangkat tema budaya," kata dia.
Sementara Lurah Gunungketur Sunarni menyatakan merti kampung ini merupakan sebuah tradisi yang diselenggarakan masyarakat setempat untuk mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk prosesi wilujengan.
Pihaknya mengangkat tema Nyawiji, Handarbeni, Migunani yang bermakna bersatu bersama-sama. "Dengan adanya kegiatan ini kami berharap warga Gunungketur di tahun-tahun ke depan bisa selalu diberkahi dengan keselamatan dan kesejahteraan.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disdukcapil Bantul ungkap SHDK KK jadi kendala SPMB 2026. Verifikasi tetap aman tanpa temuan pemalsuan dokumen kependudukan.
Daftar 32 besar Piala Dunia 2026 mulai lengkap. Tim unggulan lolos, kuda hitam bikin kejutan di fase gugur.
Kolaborasi Purana dan Puragraph di Jogja ubah lukisan Abundance jadi busana artistik, hadirkan konsep “livable art” yang unik.
DPUPKP Sleman targetkan proyek jalan dan jembatan mulai akhir Juni 2026, total 14 paket pekerjaan disiapkan.
Gubernur Jateng dorong desa jadi pemasok Program MBG, libatkan BUMDes dan koperasi untuk perkuat ekonomi lokal.
Korban gempa Venezuela capai 1.430 jiwa, lebih dari 300 gempa susulan terjadi, ribuan warga luka dan kehilangan tempat tinggal.