Survei SPPG Bantul Dimulai Akhir September, MBG Dipantau Ketat
Pemkab Bantul menyiapkan survei berkala untuk mengevaluasi SPPG dan pelaksanaan MBG, termasuk jumlah, distribusi, kemasan, dan waktu konsumsi.
Suasana gelar budaya merti kampung Gunungketur yang dipusatkan di Jalan Suryopranoto, Pakualaman, Minggu (29/9/2024)./Harian Jogja-Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Setelah puluhan tahun absen, perhelatan budaya merti kampung di Gunungketur kembali digelar tahun ini. Dipusatkan di Jalan Suryopranoto, Gunungketur, Pakualaman sebanyak enam RW dilibatkan dalam kegiatan yang digelar pada Minggu (29/9/2024) itu.
Ketua Kampung Gunungketur Endro Purnomo mengatakan, merti kampung di Gunungketur punya sejarah yang panjang. Pergelaran budaya itu sudah ada sejak 1970 an silam, tetapi vakum beberapa puluh tahun lantaran pergantian pengurus dari tingkat kempung ke level RW. "Maka tahun ini kembali kami gelar dan direncanakan bakal jadi agenda tahunan," kata Endro.
Menurutnya, merti kampung menjadi kreasi usaha budaya dan ekspresi seni dari masyarakat. Acara ini penting diselenggarakan dan dihidupkan kembali guna mengajak generasi muda untuk peduli terhadap kebudayaan lokal dan ikut serta melestarikannya. "Acara ini merupakan usulan warga melalui Musrenbang dan difasilitasi oleh kelurahan," ujar dia.
Ketua Panitia Jayantoro menyebut, ada enam RW yang ikut serta dalam acara itu yakni RW 1, 2, 3, 4, 5 dan 6.
Semuanya menampilkan pentas seni dan budaya sambil mengarak gunungan hasil bumi yang nantinya akan dibagikan kepada warga setempat. "Kami juga melibatkan UMKM dari setiap RW untuk tampil di acara ini dan semoga berdampak pada peningkatan ekonomi warga," jelasnya.
Jayantoro menjelaskan, merti kampung Gunungketur digelar sejak pagi dengan acara doa bersama di Balai Giri Arum. Masyarakat berdoa bersama atas kesehatan dan keselamatan yang dilalui selama tahun ini. Setelahnya dilakukan rayah gunungan hasil bumi.
"Kegiatan kedua pada sore hari, kami menaikkan potensi kampung berupa UMKM dan karnaval dengan mengangkat tema budaya," kata dia.
Sementara Lurah Gunungketur Sunarni menyatakan merti kampung ini merupakan sebuah tradisi yang diselenggarakan masyarakat setempat untuk mengungkapkan rasa syukur dalam bentuk prosesi wilujengan.
Pihaknya mengangkat tema Nyawiji, Handarbeni, Migunani yang bermakna bersatu bersama-sama. "Dengan adanya kegiatan ini kami berharap warga Gunungketur di tahun-tahun ke depan bisa selalu diberkahi dengan keselamatan dan kesejahteraan.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul menyiapkan survei berkala untuk mengevaluasi SPPG dan pelaksanaan MBG, termasuk jumlah, distribusi, kemasan, dan waktu konsumsi.
BPKH mengajak generasi muda mulai merencanakan keuangan haji sejak dini sekaligus memanfaatkan platform digital untuk dakwah.
Zulhas memastikan manajer Kopdes yang ditempatkan jauh dari domisili akan disesuaikan ke koperasi terdekat setelah titik tersedia.
Kejagung menyebut kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi tata kelola MBG mencapai sekitar Rp10 triliun berdasarkan penghitungan BPKP.
Sebanyak 40 KDMP di Sleman sudah beroperasi hingga September 2026, sedangkan 46 lainnya masih berproses menjalankan unit usaha.
Bansos beras 30 kg kembali disalurkan Oktober-Desember 2026 untuk 33,24 juta penerima. Cek status penerima menggunakan NIK.