Kekeringan Gunungkidul Meluas, 16 Kapanewon Sudah Terima Air Bersih
Krisis air bersih di Gunungkidul meluas. BPBD mencatat 16 kapanewon terdampak dan lebih dari 700 tangki air telah disalurkan.
Foto ilustrasi hujan- Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, SLEMAN—BPBD Sleman mulai mempersipakan peralatan kebencanaan untuk menghadapi musim hujan yang mulai turun di akhir tahun ini. Selain menyiagakan personel, juga dilakukan pengecekan terhadap peralatan yang dimiliki.
Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sleman, Sugiyanto mengatakan musim hujan sebentar lagi datang sehingga dilakukan persiapan untuk antisipasi terjadinya bencana. Oleh karenanya itu, pihaknya telah melakukan kesiapan dengan memeriksa seluruh peralatan kebencanaan yang dimiliki.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen BPBD Sleman untuk menjaga kesiapan peralatan dan menghindari kendala teknis saat penanggulangan bencana.
Dengan langkah ini, dapat terus memperkuat respons bencana yang cepat, efektif, dan tepat sasaran demi keselamatan dan keamanan masyarakat di wilayah Sleman. “Kami juga menyiagakan personel untuk membantu Masyarakat pada saat dibutuhkan,” kata Giyanto, Senin (8/10/2024).
Dia menjelaskan, untuk armada kendaraan dilakukan pengecekan ke bengkel guna pergantian oli dan lainnya. Selain itu, juga ada pengecekan terhadap gergaji mesin dan genset untuk memastikan berfungsi dengan baik.
Tim petugas melakukan pemeriksaan mendetail terhadap kondisi mesin, kelancaran bahan bakar, serta kelengkapan komponen alat lainnya. Genset yang terpasang di kendaraan operasional juga menjadi salah satu fokus utama, memastikan keandalan pasokan listrik di lapangan.
“Petugas melakukan pengujian terhadap setiap alat, memastikan semuanya siap digunakan kapan saja untuk membantu pada saat terjadi bencana,” katanya.
Kesiapsiagaan peralatan ini untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi pada musim hujan. Alat-alat tersebut meliputi mesin gergaji untuk menangani pohon tumbang, pompa air untuk mengatasi banjir, dan genset untuk menghadapi pemadaman listrik. “Berfungsi dengan baik dan siap digunakan kapan saja,” katanya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, upaya mitigasi bencana perlu dilakukan agar saat terjadi peristiwa, dampaknya bisa ditekan sekecil mungkin.
Menurut dia, adanya pemeriksaan rutin terhadap peralatan yang dimiliki merupakan bentuk kesiapsiagaan menghadapi terjadinya bencana saat hujan. “Di musim hujan, potensi bencana lebih tinggi. Sehingga harus dipersiapkan mulai dari sekarang,” katanya.
Disinggung mengenai dampak dari musim kemarau, ia mengakui hingga akan adanya pergantian musim, di Kabupaten Sleman masih aman terkendali. Meski telah menyiapkan bantuan droping air, namun hingga sekarang belum ada yang mengajukan permintaan bantuan. “Masih aman dan sudah kami siapkan. Tapi, hingga saaat ini belum ada yang meminta bantuan air bersih,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Krisis air bersih di Gunungkidul meluas. BPBD mencatat 16 kapanewon terdampak dan lebih dari 700 tangki air telah disalurkan.
Harga tiket pesawat ke Jepang diprediksi lebih murah mulai September 2026. ANA dan JAL turunkan biaya tambahan bahan bakar jadi Rp3,69 juta, lebih hemat Rp1,4 j
Sekolah mahal belum tentu menjamin kesuksesan anak. Riset terhadap keluarga pengusaha sukses menemukan lima karakter utama yang justru lebih menentukan masa dep
Bupati Temanggung Agus Setyawan mengajak warga mengawasi revitalisasi sekolah swakelola agar pembangunan sesuai kebutuhan.
Pemerintah mengalokasikan Rp820,9 triliun untuk pendidikan pada RAPBN 2027, termasuk PIP, KIP Kuliah, MBG, dan Sekolah Garuda.
Instagram resmi mengganti logo teks atau wordmark setelah 10 tahun. Desain baru menuai pro dan kontra karena banyak pengguna salah membaca tulisan Instagram men