Advertisement
Kasus DBD di Bantul Meningkat Tajam, Kapanewon Imogiri Jadi Wilayah Terbanyak Pasien
Kader jumantik melakukan aksi PSN di wilayah Bantul belum lama ini. Dinkes setempat mencatat kenaikan kasus DBD dibanding dengan tahun lalu dengan jumlah 382 kasus sampai akhir Mei 2025. Dokumentasi Istimewa (email)
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL–Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Bantul terus menunjukkan tren peningkatan.
Hingga akhir Mei 2025, tercatat 382 kasus DBD, jauh lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 250 kasus. Wilayah Kapanewon Imogiri tercatat sebagai yang paling terdampak.
Advertisement
Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Tri Widiyantara menyebut lonjakan kasus ini dipicu oleh curah hujan yang masih tinggi, meskipun seharusnya sudah memasuki musim kemarau.
“Cuaca yang masih hujan terus ini berpengaruh besar. Sejak awal tahun, kami sudah mengingatkan soal potensi lonjakan kasus DBD. Sekarang kami perlu langkah yang lebih intensif untuk pencegahan,” ujarnya, Jumat (23/5/2025).
Agus menyebut Dinas Kesehatan terus mengoptimalkan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), termasuk mengintensifkan peran kader kesehatan dan jumantik di Puskesmas serta wilayah padukuhan. Ia mengakui bahwa aktivitas pemantauan jentik nyamuk sempat melemah dan kini perlu digalakkan kembali.
BACA JUGA: PT KAI Meminta Warga Lempuyangan Mengosongkan Rumah Sengketa Dalam Tujuh Hari
“Dulu rajin memantau, sekarang agak menurun. Ini yang harus kami dorong agar kader jumantik kembali aktif,” jelasnya.
Panewu Imogiri, Slamet Santoso menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya lintas sektor untuk menekan persebaran DBD di wilayah setempat.
“Kami lakukan pemantauan PSN serentak di semua wilayah, berikan pelayanan bagi pasien suspek, dan gerakkan sukarelawan serta kader untuk mendampingi pasien. Edukasi juga terus kami lakukan, khususnya kepada generasi muda dan siswa,” kata Slamet.
Pemkab Bantul mengimbau masyarakat untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan dan memantau potensi genangan air sebagai sarang nyamuk, mengingat fluktuasi kasus DBD masih cukup tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sindikat Oplos LPG Subsidi Terbongkar, Keuntungan Rp1,3 Miliar Perhari
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








