Lahan 1,5 Hektare di Bener Kota Jogja Disiapkan Jadi Pusat Edukasi Pertanian
Pemkot Jogja menyiapkan Rp1 miliar pada 2027 untuk mengembangkan integrated farming di Bener sebagai pusat edukasi dan produksi pangan.
Leptospirosis - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menyampaikan ada 46 kasus positif leptospirosis dengan delapan orang meninggal dunia sejak awal tahun hingga Juni 2025. Leptospirosis disebabkan bakteri leptospira yang disebarkan melalui hewan tikus.
Atas kejadian ini, Dinkes meminta agar masyarakat menjaga lingkungan agar tetap bersih hingga membasmi tikus di sekitar.
Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, mengatakan ada tiga kapanewon/ kecamatan yang menjadi lokus persebaran kasus leptospirosis. Tiga kapanewon tersebut adalah Ngemplak, Prambanan, dan Moyudan.
Kata Cahya, apabila seseorang mengidap penyakit leptospirosis maka perlu pengobatan melalui pemberian antibiotik dan terapi cairan. Gejala yang timbul pasca terjangkit juga perlu diobati secara cepat dan tepat.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, juga mengatakan perlu terapi dengan antibiotik dan obat-obatan lain untuk membunuh bakteri leptospira.
BACA JUGA: Siswa Bakal Tetap Dapat MBG Selama Libur Sekolah, BGN Menyusun Petunjuk Teknis
“Kalau penyakti leptospirosis dapat diketahui sejak dini, biasanya dapat diatasi dengan baik karena biasanya belum ada komplikasi multi organ. Bisa disembuhkan,” kata Yuliati dihubungi, Minggu (22/6/2025).
Yuliati menegaskan apabila terjadi komplikasi multi organ penanganan menjadi lebih berat. Organ yang paling berpotensi rusak adalah ginjal yang mengarah pada gagal ginjal. Pasien gagal ginjal perlu melakukan cuci darah secara rutin.
Kata dia, gangguan mult organ tingkat lanjut dapat berujung kematian. Adapun Dinkes Sleman juga telah mengeluarkan surat edaran (SE) ihwal penyebaran penyakit leptospirosis. SE Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman tentang Kewaspadaan terhadap Leptospirosis dan Demam Berdarah Dengue No. 443/1119 tanggal 5 februari 2025 disebarkan ke setiap puskesmas dan rumah sakit, serta perangkat daerah terkait seperti Dinas Pertanian.
“Kami ada juga pertemuan lintas sektor dalam wadah Tim Koordinasi Daerah zoonosis dan penyakit infeksi baru atau emerging disease. Disiapkan juga SE Bupati untuk kewaspadaan dini masyarakat dalam mengantisipasi peningkatan kejadian Leptospirosis ini,” katanya.
Menurut Yuliati, kolaborasi lintas perangkat daerah, utamanya Dinas Pertanian akan sangat membantuk dalam memutus vektor pembawa penyakit, yaitu tikus yang biasanya banyak ditemukan di area persawahan.
“Makanya kebanyakan korban itu petani. Kolaborasi menjadi sangat penting untuk mengedukasi dan sosialisasi tentang penyakit zoonosis,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Jogja menyiapkan Rp1 miliar pada 2027 untuk mengembangkan integrated farming di Bener sebagai pusat edukasi dan produksi pangan.
Borneo FC ditahan PSM Makassar 1-1 meski unggul jumlah pemain. Dua pemain Juku Eja mendapat kartu merah dalam laga di Stadion Segiri.
Segafredo Cafe mengembangkan hospitality Italia di Jogja dengan sajian kopi, pasta, dan pizza untuk menyasar wisatawan asing maupun domestik.
PKB Sleman menggelar dialog sosialisme Islam bersama tokoh NU, Muhammadiyah, dan FKUB untuk membahas keadilan sosial serta persoalan anak muda.
BPS menjelaskan alasan penduduk yang bekerja satu jam seminggu tetap masuk kategori bekerja berdasarkan standar ILO.
Sebanyak 30 lurah hasil Pilur Serentak 2026 Bantul resmi dilantik untuk masa jabatan 2026-2034. Lurah diminta inovatif dan merangkul seluruh warga.