Advertisement
RSJ Grhasia Tangani Kecanduan Gawai pada Anak di 2025
Direktur RS Jiwa Grhasia DIY, Akhmad Akhadi ditemui di RSJ Grhasia pada Senin (5/1/2026). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Selain menangani skizofrenia dan bipolar, RSJ Grhasia DIY mencatat peningkatan kasus gangguan kejiwaan pada anak akibat kecanduan gawai sepanjang 2025.
Direktur RSJ Grhasia DIY, Akhmad Akhadi, mengungkapkan bahwa tren kunjungan pasien selama 2025 masih didominasi oleh penderita skizofrenia. "Kasusnya memang masih terbanyak itu adalah skizofrenia," terang Akhmad pada Senin (5/1/2026).
Advertisement
Menurut Akhmad, skizofrenia merupakan gangguan mental kompleks yang memengaruhi perilaku, memicu waham (delusi), hingga mengganggu kemampuan rawat diri pasien. Ia menjelaskan bahwa jenis skizofrenia yang paling sering ditemui adalah tipe yang tidak terperinci.
"Skizofrenia sendiri macam-macamnya banyak. Ada skizofrenia paranoid, ada skizofrenia tak terinci atau tidak teridentifikasi. Yang paling banyak ditangani adalah skizofrenia tak terinci," jelasnya.
BACA JUGA
Pasien yang dirawat di RSJ Grhasia sepanjang 2025 tidak hanya berasal dari wilayah DIY, tetapi juga mencakup Jawa Tengah hingga Jawa Timur bagian selatan. Mayoritas pasien berada di rentang usia produktif, yakni 40 hingga 50 tahun.
"Usianya adalah dewasa di usia produktif, kira-kira 40 sampai 50 tahun. Lebih dari 50 tahun ada? Ya ada, tapi tidak sebanyak yang 40-50 tahun," ujarnya.
Selain pasien dewasa, RSJ Grhasia juga mencatat adanya pasien kategori anak-anak dan remaja. Akhmad menyebutkan bahwa layanan psikiatri anak kini menangani berbagai kasus, mulai dari gangguan perkembangan hingga dampak teknologi.
Beberapa kasus yang muncul meliputi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, gangguan wicara, hingga kecanduan gawai.
"Penyebabnya multifaktorial. Ada yang karena stres atau tekanan berkelanjutan. Sementara aspek genetis bukan penyebab utama, melainkan predisposisi (faktor risiko)," ungkap Akhmad.
Terkait kecanduan non-zat, Akhmad menyoroti fenomena game online yang sering kali membuat anak mengalami tantrum jika tidak memainkannya. Bahkan, dalam tingkat yang berat, anak bisa mengalami gangguan kepribadian karena merasa menjadi tokoh di dalam gim tersebut.
"Game online itu kalau sudah kecanduan, dia jadi tantrum kalau tidak bermain. Tokoh di dalam game itu masuk ke dirinya, dia memerankan karakter itu. Jika sudah sampai addict, gangguannya berat karena sudah ketergantungan," tambahnya.
Di tingkat nasional, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan angka depresi di Indonesia mencapai 2%. Namun, hanya 13% di antaranya yang mengakses layanan kesehatan.
"Jadi lebih banyak yang tidak mengakses atau tidak berobat dibandingkan yang mengakses pelayanan. Ini menjadi masalah yang perlu diperhatikan masyarakat," ungkap Imran di FK-KMK UGM, Kamis (9/10/2025).
Imran memaparkan tiga besar kasus gangguan jiwa di Indonesia saat ini, yaitu:
- Depresi
- Ansietas (Kecemasan)
- Skizofrenia
Selain itu, masalah pasung masih menjadi tantangan besar dengan laporan sekitar 1.750 kasus di seluruh Indonesia. "Spektrum kesehatan jiwa sangat lebar, mulai dari gangguan ringan sampai berat. Ini perlu perhatian kita semua, bukan hanya saat kondisi bencana saja," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Mentan Copot 192 Pejabat, 2.300 Izin Distributor Pupuk Dicabut
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Anggaran Terbatas, Jalan Rusak Kulonprogo Masih Jadi PR Besar
- Sejumlah Kapolsek di Bantul Dirotasi, Polres Lakukan Sertijab
- ZoSS SMPN 1 Mlati Rusak, Dishub Sleman Tunda Perbaikan
- Survei Pustral UGM: Kepuasan Angkutan Nataru Capai 87,43
- Pemkab Bantul Targetkan Kemiskinan Turun di Bawah 9 Persen pada 2026
Advertisement
Advertisement




