Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Pelaksanaan tradisi Grobyak Telaga di Padukuhan Bendogede, Sumbergiri, Ponjong. Minggu (22/6/2025./ Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ratusan warga mengikuti tradisi Grobyak Telaga di Padukuhan Bendogede, Sumbergiri, Ponjong, Minggu (22/6/2025). Kegiatan menangkap ikan di telaga yang mengering ini berlangsung meriah karena juga diikuti oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntarningsih beserta jajarannya.
Tradisi ini diawali dengan pentas tari dan kenduri. Kenduri dilakukan sebagai bentuk wujud Syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa serta kepada alam.
Warga pun antusias mengikuti Grobyak Telaga dengan alat tangkap yang dimiliki. yakni anco, jaring serok besar yang diberi gagang panjang dan pecak atau serok keci) untuk menangkap ikan air tawar hasil budidaya.
Ketua Panitia Grobyak Telaga, Zainal mengatakan, tradisi menangkap ikan di telaga mengering merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun. Kegiatan ini berlangsung dengan meriah karena ratusan warga bersama dengan bupati ikut turun menangkap ikan.
“Alhamdulillah, Grobyak massal bisa terlaksana dengan lancar di Telaga Klepeng. Hingga sekarang masih lestari dan harus terus dijaga,” kata Zainal, Minggu.
BACA JUGA: Ditarget Rp32 Miliar, PAD Wisata Gunungkidul Baru Tercapai Rp12 Miliar
Menurut dia, kegiatan grobyak bukan sekadar panen ikan secara bersama-sama. Pasalnya, kegiatan ini juga sebagai bentuk pelestarian lingkungan.
Diharapkan dengan menangkap ikan di dasaran telaga mengering dapat menutup ponor-ponor tanah sehingga airnya tidak cepat mengering. “Ini juga untuk menjaga kebersihan telaga karena sampah-sampah yang ada juga ikut terangkut,” katanya.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan, senang atas kekompakan dan kemandirian warga dalam melestarikan tradisi ini. Ia berjanji menjadikan Tradisi Grobyak Telaga menjadi kalender resmi di Kabupaten Gunungkidul.
Hal itu dikarenkan even ini bisa menjadi daya tarik wisata budaya yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga nilai-nilai tradisi dan kelestarian alam. Diharapkan ke depan pengunjung dari luar daerah bisa mengikuti kegiatan ini dengan menyewa alat milik warga sehingga menumbuhkan roda perekonomian.
“Kegiatan ini banyak maknanya dan sudah berlangsung selama puluhan tahun dan terus dijaga,” katanya.
Bupati juga menekankan bahwa budaya merawat alam adalah bagian dari kebudayaan yang dimiliki sendiri. Pasalnya, kegiatan menginjak-injak lumpur menjadi bagian dari revitalisasi telaga. “Ini kearifan lokal untuk melesetarikan dengan cara yang menyenangkan,” kata Mbak Endah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
DPRD Gunungkidul menyoroti sejumlah sekolah yang belum menerima MBG dan mendorong perluasan program agar lebih merata.
Pieter Huistra menyebut pemain asing PSS Sleman masih beradaptasi. PSS juga membuka peluang merekrut pemain lokal dan menyiapkan uji coba.
MA mengoreksi perhitungan kerugian negara kasus korupsi timah. Dari Rp300 triliun, kerugian keuangan negara ditetapkan Rp28,9 triliun.
Pemkab Temanggung mendukung wacana guru PPPK menjadi ASN pusat. Beban APBD daerah berpotensi berkurang sekitar Rp150,5 miliar.
DPRD Bantul mengkaji usulan perubahan Perbup BUMKalma setelah pengelola menyoroti kebutuhan operasional dan penguatan kelembagaan.