Libur Kenaikan Yesus Kristus, BNI Buka Layanan Terbatas di Jateng
BNI buka layanan operasional terbatas di Jawa Tengah saat libur Kenaikan Yesus Kristus 2026, termasuk transaksi perbankan esensial.
Kepala Disbud Kota Jogja, Yetti Martanti (kanan) memotong tumpeng menandai dibukanya Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 di Hotel 1O1 Style, Pakualaman, Kota Jogja, Senin (28/7/2025). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat
JOGJA—Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2025 kembali hadir dengan semangat yang semakin kuat untuk merayakan keberagaman ekspresi sastra. Mengusung tema Rampak, yang bermakna serempak, setara, dan harmonis, festival ini menegaskan pentingnya gerak kolaboratif dalam merawat literasi saat ini.
FSY 2025 akan digelar selama enam hari, mulai 30 Juli hingga 4 Agustus 2025, berlokasi di Grha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Umbulharjo. Tahun ini, FSY menjadi bagian dari rangkaian acara pra-Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XI.
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja, Yetti Martanti, mengatakan FSY tidak hanya sekadar festival, melainkan ruang temu lintas komunitas dan generasi. “FSY bertumbuh dari ruang pertemuan warga sastra menjadi panggung yang memperkuat jejaring komunitas, membuka ruang bagi regenerasi, dan refleksi bersama,” ujarnya saat jumpa pers di Hotel 1O1 Pakualaman Jogja, Senin (28/7/2025).
Festival ini dirancang inklusif dan interaktif. Sejumlah agenda seperti Pasar Sastra, Sayembara Puisi, diskusi komunitas Susur Galur, hingga panggung terbuka Panggung Teras, menjadi magnet utama. Tidak hanya itu, pembukaan dan penutupan festival dikemas dengan pertunjukan seni lintas medium.
BACA JUGA: Marak Parkir Liar di Jogja, Wali Kota Hasto Wacanakan Ada Valet Parking
Yetti menyebut 60 tokoh sastra dipastikan terlibat dalam edisi FSY tahun ini. Dengan pendekatan ramah komunitas, ramah lingkungan, dan ritme kerja yang sehat, FSY 2025 menandai fase baru festival sastra di Jogja, sebuah ruang literasi yang menyatu dengan denyut masyarakat.
Tokoh-tokoh sastra dan budaya yang terlibat antara lain Ramayda Akmal (sastrawan dan akademisi UGM), Fairuzul Mumtaz (penulis dan Ketua Komunitas Suku Sastra), serta Paksi Raras Alit yang juga bertindak sebagai kurator di FSY.
Paksi Raras Alit menjelaskan tahun ini FSY berlangsung lebih lama dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia menyebut terdapat peningkatan signifikan pada jumlah program dan partisipasi, termasuk adanya ratusan ribu buku yang ditampilkan dalam festival ini.
“Tahun ini total ada enam hari penyelenggaraan, dan setiap harinya ada pameran buku dengan lebih dari 75 penerbit. Total ada sekitar 110.000 buku, sebagian besar bisa didapatkan dengan diskon dan giveaway gratis,” katanya.
Selain bazar buku, setiap hari diisi dengan diskusi sastra, pertunjukan karya, dan panggung komunitas. Mulai pukul 09.00 WIB hingga 21.00 WIB, pengunjung bisa menikmati ragam kegiatan yang terbuka untuk umum dan gratis.
Sejak pertama kali digelar pada 2021, FSY hadir konsisten dengan tema-tema reflektif seperti Musikal Hanacaraka (2021), Mulih (2022), Sila (2023), Siyaga (2024), dan kini Rampak (2025). Setiap tema merepresentasikan respons terhadap dinamika sosial dan budaya, serta upaya menjaga keberlanjutan ekosistem sastra. (Advetorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BNI buka layanan operasional terbatas di Jawa Tengah saat libur Kenaikan Yesus Kristus 2026, termasuk transaksi perbankan esensial.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.
Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta menunda keberangkatan 89 calon haji nonprosedural yang memakai visa kerja hingga iqama.