UMKM Kulonprogo Bidik Pasar Internasional, Digital Marketing hingga AI Jadi Bekal
Pemkab Kulonprogo dan Kemendag melatih 60 UMKM agar mampu menembus pasar ekspor. Program pendampingan intensif disiapkan selama delapan bulan.
Ilustrasi Keracunan - Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulonprogo menyatakan keracunan siswa yang terjadi beberapa waktu lalu bersumber dari makan bergizi gratis (MBG).
Kesimpulan tersebut usai adanya hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan, muntahan dan feses. Pengujian dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) DIY yang berlangsung selama dua pekan.
BACA JUGA: Guru Mencicipi Menu MBG di Sleman Juga Ikut Keracunan
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kulonprogo Arief Musthofa menyampaikan sampel makanan yang diperiksa berupa nasi putih, ayam, sayur tumis, tahu goreng, dan semangka. Menurutnya dari hasil uji lab pada sampel makanan termasuk muntah dan feses terdapat bakteri. Di antaranya bakteri bacillus cereus, e coli, dan staphylococcus aureus.
"Bakteri ini seharusnya tidak ada di makanan jadi ini dipastikan sebuah kontaminan yang bisa dimulai dari bahan baku sampai saat penyajian. Nah CCP atau critical control point di mana bakteri masuk itu banyak sehingga kami tidak bisa menjustifikasi oh ini pasti penyebab di SPPG. Tidak bisa menuding begitu karena penyebabnya multi faktorial," katanya kepada wartawan, Rabu (20/8/2025).
Menurutnya CCP itu bisa memasukan bakteri ketiganya mulai dari penyajian ataupun saat memasak. Termasuk tidak bisa dipastikan keracunan itu disebabkan karena salah satu makanan yang menjadi menu MBG saja.
Alasannya, bisa saja faktor lainnya seperti tidak cuci tangan saat hendak makan. Apalagi bakteri staphylococcus aureus sumber banyaknya ada di luka terbuka atau koreng. "Banyak faktor yang menyebabkan keracunan. Bakteri yang didapatkan anak keracunan bisa jadi tidak hanya satu perpaduan antar ketiganya," imbuh Arief.
Selain itu, masa simpan MBG dengan penyajian yang memakan waktu berjam-jam rentan menimbulkan bakteri. Kondisi tersebut menimbulkan banyak bakteri yang menyerang tubuh. Lantaran kalau bakterinya hanya sedikit bisa dilawan oleh asam lambung.
"Memang sumbernya menu MBG tetapi multi faktor penyebabnya," ucapnya. Arief meminta ke depan untuk penyajian MBG siswa harus cuci tangan dan jangan ditunda-tunda. Menurutnya, hal itu penting agar jeda waktu masa simpannya tidak terlalu lama.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kulonprogo, Sri Budi Utami menambahkan, pemeriksaan uji laboratorium terhadap makanan MBG hasilnya positif. Menurutnya itu berarti makanan yang dikonsumsi siswa terkontaminasi ketiga bakteri. "Jadi positif. Definisi keracunan itu kan orang konsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri," tegasnya.
Dia membeberkan, entah bagaimana bakteri itu bisa ada di menu MBG itu banyak faktornya. Namun, masakan MBG yang disajikan positif terdapat bakteri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Kulonprogo dan Kemendag melatih 60 UMKM agar mampu menembus pasar ekspor. Program pendampingan intensif disiapkan selama delapan bulan.
KAI Daop 6 mengimbau penumpang tiba lebih awal pada 28 Oktober 2026 untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas akibat aksi mahasiswa.
KPK memeriksa empat pegawai BNPB sebagai saksi kasus dugaan korupsi dana siap pakai. Penyidik sebelumnya menyita barang bukti senilai Rp5,47 miliar.
Antam mencatat penjualan emas 25.217 kg senilai Rp68,41 triliun hingga September 2026. Laba perusahaan tumbuh 46% menjadi Rp9,66 triliun.
Teddy Indra Wijaya menyebut 265 Sekolah Rakyat telah berdiri di 131 kabupaten/kota hingga Oktober 2026 untuk memperluas akses pendidikan.
Polda DIY menyiapkan rekayasa lalu lintas situasional saat aksi pemuda dan mahasiswa pada 28 Oktober 2026. Jalan tetap dibuka jika arus normal.