Imigrasi Soroti Kerentanan TPPO di Pantai Selatan Jogja
Wilayah pesisir pantai selatan Jogja, khususnya di kawasan Kulon Progo dan Bantul, dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap praktik Tindak Pidana Perdagangan
Pohon tumbang menimpa rumah akibat angin kencang di Kapanewon Paliyan, Gunungkidul, beberapa waktu lalu. - Antara/ist/BPBD Gunungkidul
Harianjoga.com, BANTUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang, hingga cuaca ekstrem memasuki peralihan dari musim kemarau ke penghujan di Oktober ini.
Analis Mitigasi Bencana BPBD Bantul, Malichah Kurnia Pratiwi mengatakan, wilayah Bantul memiliki kerawanan berbeda sesuai kondisi geografis. Untuk banjir, kawasan perkotaan di Kapanewon Bantul kerap mengalami banjir genangan, sedangkan daerah seperti Imogiri rawan terdampak luapan sungai, terutama Sungai Celeng yang secara rutin meluap saat intensitas hujan tinggi.
BACA JUGA: Kisah Perjuangan Batik Tulis Giriloyo di Tengah Gempuran Batik Printing
“Kalau longsor, zona rawan ada di timur Kabupaten Bantul seperti Dlingo. Itu termasuk wilayah yang harus diwaspadai saat curah hujan meningkat,” ujarnya, Kamis (2/10/2025).
Selain itu, wilayah Sewon juga masuk dalam catatan daerah yang sering tergenang air akibat hujan lebat. “Kami mendasarkan pada catatan kejadian sebelumnya yang menunjukkan pola berulang,” imbuhnya.
Menurut dia, BPBD telah melakukan sosialisasi keberadaan early warning system (EWS) banjir dan longsor di wilayah rawan bencana agar warga tidak hanya tahu tanda-tanda peringatan, tetapi juga mampu merespons cepat. “Kami ingin masyarakat tidak panik, tetapi sigap saat sistem peringatan dini berbunyi,” ujarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol menyatakan, masyarakat perlu memperhatikan tanda-tanda cuaca ekstrem di masa pancaroba.
“Biasanya pagi hingga siang panas terik, lalu mendadak berubah hujan deras disertai angin kencang. Kondisi seperti itu berpotensi membahayakan, sehingga masyarakat diimbau menjauhi pepohonan besar atau aliran sungai,” jelas Antoni.
Menurutnya, kawasan Imogiri, Pundong, hingga Dlingo menjadi daerah yang paling sering terdampak banjir maupun longsor. Meski begitu, BPBD tetap menekankan kewaspadaan menyeluruh di seluruh wilayah di daerah ini.
BPBD, kata dia juga telah menyiagakan tim reaksi cepat (TRC), Damkarmat, serta jejaring Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat kapanewon dan kalurahan untuk mengantisipasi dan memitigasi munculnya bencana cuaca ekstrem.
“Koordinasi sudah dilakukan bersama teman-teman di lapangan. Selain itu, bidang pencegahan dan kesiapsiagaan juga rutin melakukan sosialisasi tentang mitigasi cuaca ekstrem serta penggunaan EWS banjir dan longsor,” terang Antoni.
Pihaknya mengingatkan masyarakat agar lebih waspada sepanjang Oktober, karena intensitas hujan diperkirakan mulai meningkat sejak dasarian pertama hingga ketiga bulan ini, sebelum memasuki puncak hujan di akhir tahun mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wilayah pesisir pantai selatan Jogja, khususnya di kawasan Kulon Progo dan Bantul, dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap praktik Tindak Pidana Perdagangan
Slipknot resmi mengumumkan perpisahan dengan Sid Wilson setelah hampir tiga dekade bersama. Alasan keluarnya sang DJ masih menjadi misteri.
Kemkomdigi meminta Google dan Apple menghapus aplikasi Hornet dari Play Store dan App Store di Indonesia karena persoalan kepatuhan aturan PSE dan aduan masyara
Google menghadirkan fitur baru yang memungkinkan pengguna menghapus watermark pada gambar, video, dan musik hasil kreasi AI Gemini.
Korban gempa M7,7 di Nagekeo, NTT bertambah menjadi 38 jiwa. Ribuan warga mengungsi, bandara, pelabuhan, dan fasilitas kesehatan terdampak.
Gempa M7,7 di Flores, NTT, menyebabkan 200 BTS mengalami gangguan di 10 kabupaten/kota. Komdigi bersama operator seluler melakukan pemulihan jaringan.