Advertisement
Januari-Februari Jadi Puncak Musim Hujan, Ini Imbauan BPBD Gunungkidul
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem. - Pixabay
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung sepanjang Januari hingga Februari 2026. Langkah antisipasi ini dinilai penting sebagai bagian dari mitigasi kebencanaan agar potensi dampak dapat ditekan seminimal mungkin.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menyampaikan pihaknya terus melakukan koordinasi intensif dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY terkait perkembangan cuaca. Dari hasil koordinasi tersebut, diketahui periode Januari hingga Februari merupakan puncak musim hujan di wilayah Bumi Handayani.
Advertisement
“Di puncak musim hujan ini, maka potensi terjadinya bencana alam juga meningkat. Makanya, harus diwaspadai,” kata Purwono, Selasa (27/1/2026).
Berdasarkan kajian kebencanaan yang dilakukan BPBD, terdapat sejumlah potensi bencana yang mengancam wilayah Gunungkidul. Dari hasil pemetaan daerah rawan bencana, potensi banjir teridentifikasi di sepanjang aliran Kali Oya serta beberapa titik di Kapanewon Girisubo.
BACA JUGA
Sementara itu, ancaman tanah longsor didominasi wilayah zona utara Gunungkidul yang meliputi Kapanewon Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin, dan Ponjong.
“Untuk angin kencang potensinya menyebar di seluruh wilayah di Gunungkidul,” katanya.
Sebagai upaya mengantisipasi meningkatnya risiko bencana di puncak musim hujan, BPBD Gunungkidul berencana memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Status yang semula berakhir pada 31 Januari 2026 akan diperpanjang hingga 31 Maret 2026.
Selain itu, BPBD juga telah menyiapkan personel tim reaksi cepat yang siap diterjunkan sewaktu-waktu untuk membantu proses evakuasi maupun penanganan darurat ketika terjadi bencana alam.
“Sebagai bentuk kesiapsiagaan, personel BPBD sudah disiapkan untuk diterjunkan pada saat terjadi musibah yang dapat terjadi kapan saja,” ujarnya.
Purwono turut mengajak masyarakat berperan aktif dalam mitigasi kebencanaan. Upaya sederhana yang bisa dilakukan antara lain menjaga kebersihan lingkungan, membersihkan saluran pembuangan air, serta memangkas dahan dan ranting pohon yang sudah terlalu rimbun.
“Saat terjadi hujan, kami juga mengimbau agar menjauhi daerah rawan bencana seperti lereng bukit, sungai, dan lainnya,” kata mantan Panewu Purwosari tersebut.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, mengungkapkan bahwa sejak awal tahun 2026 telah tercatat 110 kejadian bencana alam.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 64 kejadian merupakan dampak cuaca ekstrem, seperti pohon tumbang dan kerusakan bangunan.
Adapun 46 kejadian lainnya berupa tanah longsor yang tersebar di sejumlah kapanewon, mulai dari Gedangsari, Purwosari, Semin, Nglipar, Ngawen, hingga Tepus.
“Kejadian ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa, tapi hingga sekarang dilaporkan ada satu orang yang mengalami luka,” kata Nanang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pesawat Smart Air Jatuh di Nabire, Diduga Gagal Lepas Landas
Advertisement
Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia
Advertisement
Berita Populer
- Skema M3K Mulai Diterapkan untuk Rumah di Sempadan Sungai Jogja
- Ular Sanca 2,5 Meter Masuk Kandang Ayam Warga Siraman Gunungkidul
- Bawa Celurit Seusai Cekcok Laka Lantas, Dua Pemuda Ditangkap
- Keraton Jogja Beri Serat Palilah Pemanfaatan Tanah SG di Turgo Sleman
- Tiket Kereta Mudik Lebaran 2026 Mulai Dijual, Ini Jadwal dan Tipsnya
Advertisement
Advertisement



