Sleman Jadi Percontohan, Jip Merapi Terapkan KTA dan Barcode
Wisata jip Merapi Sleman kini gunakan barcode dan KTA. Sistem ini tingkatkan keamanan, transparansi, dan layanan wisata.
Ilustrasi sampah organik - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, SLEMAN—Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Donokerto di Sleman kini telah beroperasi secara penuh dengan tiga modul, meningkat dari yang semula hanya dua modul. Peningkatan operasional ini diharapkan dapat membantu mengelola peningkatan timbulan sampah selama musim libur panjang akhir tahun 2025.
Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Sugeng Riyanta, mengatakan bahwa operasional TPST yang dimiliki Sleman akan menjadi lebih optimal jika masyarakat turut aktif memilah sampah dari sumbernya. Pada dasarnya, TPST di Sleman hanya difokuskan untuk mengelola dan mengolah sampah anorganik, meskipun DLH juga menyediakan ruang untuk pengolahan sampah organik di TPST tersebut.
Meskipun TPST Donokerto telah beroperasi penuh, DLH masih perlu membahas optimalisasi tenaga kerja (manpower) agar operasionalnya mencapai titik maksimal.
DLH Sleman juga telah bersiap menyambut libur panjang akhir tahun. Peningkatan timbulan sampah diprediksi akan terjadi, terutama di destinasi-destinasi wisata. Mengandalkan TPST saja dinilai tidak cukup. Oleh karena itu, pengurangan sampah dari hulu menjadi upaya yang sangat penting.
Sampah berpotensi menumpuk tak terkelola jika timbulannya melebihi kapasitas pengolahan TPST yang ada. Apalagi, kuota pembuangan sampah ke TPA Piyungan untuk Sleman saat ini hanya tersisa 117 ton dari total 617 ton hingga akhir tahun.
Penutupan TPA Piyungan pada bulan Desember mendatang memaksa DLH harus memikirkan upaya pengelolaan sampah jangka pendek menjelang tahun baru.
“Desember nanti kami tetap memaksimalkan pemilahan sampah dari rumah. Kalau tidak bisa akses ke TPA Piyungan, kami tetap upayakan agar sumber-sumber sampah bisa dikelola secara mandiri,” kata Sugeng, ditemui di Youth Centre Yogyakarta, Mlati, Minggu (2/11/2025).
Pemkab Sleman Tunggu Arahan Pemprov DIY
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, mengakui bahwa penutupan TPA Piyungan pada akhir tahun akan menghambat Sleman dalam membuang residu sampah. Saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman masih menunggu arahan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY terkait rencana kerja sama pengelolaan sampah di TPA Piyungan.
“Setahu saya, Pemerintah Provinsi DIY telah sepakat ada kerja sama pengelolaan sampah [dengan pihak ketiga] di TPA Piyungan. Permasalahannya, kan, itu baru dilaksanakan tahun 2027. Desember nanti juga TPA Piyungan tutup. Kami akan berkoordinasi apa yang bisa dilakukan Sleman,” jelas Harda.
Disinggung mengenai proyek pembangunan infrastruktur pengolah sampah pada tahun 2026, ia mengaku tidak ada proyek pembangunan baru, hanya berupa pelengkapan fasilitas pengolah sampah yang sudah ada.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wisata jip Merapi Sleman kini gunakan barcode dan KTA. Sistem ini tingkatkan keamanan, transparansi, dan layanan wisata.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.
Pasutri asal Candimulyo meraih dua penghargaan pada Bupati Award 2026 Kabupaten Magelang berkat inovasi gula semut dan pertanian modern.
PT Importa Jaya Abadi (Importa) meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian penjualan 1 juta unit lemari pakaian besi
Kasus Ebola di Kongo meningkat. Dosen UMY mengingatkan Indonesia memperkuat kewaspadaan, deteksi dini, dan sistem kesehatan menghadapi ancaman penyakit menular.