Advertisement

Dampak Banjir, Mahasiswa Aceh Tamiang di Jogja Kesulitan Bayar UKT

Ariq Fajar Hidayat
Sabtu, 10 Januari 2026 - 17:27 WIB
Maya Herawati
Dampak Banjir, Mahasiswa Aceh Tamiang di Jogja Kesulitan Bayar UKT Foto ilustrasi biaya pendidikan / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, termasuk Aceh Tamiang, berdampak langsung pada kemampuan mahasiswa asal daerah tersebut yang menempuh pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), menyusul terputusnya sumber penghasilan orang tua.

Banjir Aceh Tamiang menyebabkan banyak orang tua mahasiswa kehilangan mata pencaharian, terutama yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Kondisi tersebut membuat sebagian mahasiswa mengalami kesulitan memenuhi biaya pendidikan dan kebutuhan hidup selama kuliah di Jogja.

Advertisement

Rizky Alhanif, mahasiswa Instiper Yogyakarta asal Aceh Tamiang, menyampaikan bahwa persoalan utama pascabanjir adalah kemampuan keluarga membayar UKT mahasiswa. Banyak orang tua yang sebelumnya bekerja sebagai petani kini tidak lagi memiliki lahan garapan akibat terendam banjir serta tertutup lumpur dan kayu gelondongan.

“Ada beberapa mahasiswa yang bahkan memang tidak ada kiriman orang tua, karena di sana juga ekonomi terputus. Apalagi di sana memang kalau orang tuanya itu petani, lahan pertaniannya habis, hilang. Sudah enggak bisa mendapatkan apa-apa lagi,” ujar Rizky kepada Harianjogja.com, belum lama ini.

Di Jogja, mahasiswa Aceh Tamiang tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Aceh Tamiang (Permata) Jogja. Rizky menyebutkan, jumlah mahasiswa Aceh Tamiang yang terdata mencapai sekitar 100 orang dari berbagai jenjang pendidikan.

Meski demikian, Rizky menuturkan kebutuhan hidup mahasiswa relatif terbantu oleh kepedulian berbagai pihak. Bantuan sembako telah diterima dari sejumlah relawan hingga Keraton Yogyakarta, sehingga meringankan beban kebutuhan sehari-hari mahasiswa terdampak banjir.

“Kalau kondisinya alhamdulillah baik, karena memang di Jogja ini kan sangat aware sama mahasiswa, apalagi yang dari Aceh Tamiang yang sangat terdampak. Terus juga banyak bantuan sembako. Kemarin juga dapat sembako dari Kraton, dari organisasi-organisasi relawan juga dapat,” katanya.

Namun, persoalan pembayaran UKT masih menjadi tantangan terbesar. Rizky menyebut terdapat mahasiswa yang telah menyampaikan kesulitan membayar SPP atau UKT akibat kondisi ekonomi keluarga di daerah asal.

“Jadi ada beberapa kategori memang UKT-nya bisa dibebaskan atau bayar berapa persen, tergantung kondisi di daerahnya. Sedang diupayakan memang sampai saat ini,” ujarnya.

Sebagai upaya mencari solusi, Permata Jogja melakukan audiensi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Senin (5/1/2026) lalu, untuk membahas mekanisme bantuan jaminan untuk hidup (jadup) bagi mahasiswa terdampak banjir. Ia menyebut masih ada mahasiswa yang belum menerima bantuan jadup karena minim informasi serta kendala administrasi.

“Jadi ada beberapa mahasiswa dari berbagai kampus yang memang belum mendapatkan atau kurangnya informasi, jadi belum dapat informasi bagaimana mekanisme penyaluran dana tersebut,” ucapnya.

Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Muhammad Syafi’i, menegaskan pihaknya mengawal proses pendataan dan verifikasi agar mahasiswa terdampak banjir yang mengalami kesulitan membayar UKT tidak terlewat dalam penyaluran bantuan.

“Kami ingin memastikan proses pendataan dilakukan secara akurat agar tidak ada mahasiswa terdampak yang terlewat, sekaligus menjaga akuntabilitas bantuan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, menyebut pihaknya menindaklanjuti penyaluran bantuan sesuai kewenangan, khususnya terkait mekanisme dan penyesuaian data penerima bantuan sosial.

“Dinas Sosial terbuka untuk berkoordinasi dan melakukan verifikasi data agar bantuan jadup benar-benar tepat sasaran dan sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Penembakan Massal di Mississippi: 6 Tewas di Tiga Lokasi Berbeda

Penembakan Massal di Mississippi: 6 Tewas di Tiga Lokasi Berbeda

News
| Minggu, 11 Januari 2026, 06:37 WIB

Advertisement

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest

Wisata
| Jum'at, 09 Januari 2026, 18:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement