Advertisement
Tanpa Dana Negara, Bedah Rumah Pemkot Jogja Tetap Jalan di 2026
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo. ANTARA - Luqman Hakim
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Jogja memastikan program bedah rumah tetap berlanjut pada 2026 meski tanpa sokongan anggaran APBD maupun APBN. Perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) dilaksanakan melalui skema gotong royong yang melibatkan CSR perusahaan, perangkat daerah, dan partisipasi masyarakat.
Program bedah rumah yang dimulai sejak pertengahan 2025 tersebut tercatat telah merampungkan perbaikan 82 unit rumah hingga akhir tahun lalu. Seluruh capaian itu didukung oleh kontribusi dunia usaha, komunitas, serta solidaritas warga Kota Jogja.
Advertisement
Memasuki awal 2026, dua rumah warga kembali menjadi sasaran program bedah rumah. Rumah tersebut masing-masing milik Elisabeth Oktaviani di wilayah Baciro, Kemantren Gondokusuman, dan Siswo Raharjo Al Tugiman di Prenggan, Kemantren Kotagede.
Kedua rumah menerima bantuan CSR senilai Rp20 juta per unit, dengan dukungan dari Pamella dan Bank Jogja sebagai mitra perusahaan yang terlibat dalam program sosial tersebut.
BACA JUGA
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa program bedah rumah tidak hanya bertujuan memperbaiki bangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek kualitas hidup warga yang tinggal di dalamnya.
“Di satu rumah, persoalannya sangat kompleks. Rumahnya bocor, penghuninya memiliki anggota keluarga dengan gangguan kesehatan mental dan penyakit jantung. Jika rumah tidak dibenahi, stresnya bisa berat dan berbahaya,” kata Hasto seusai melaksanakan bedah rumah di Gondokusuman dan Kotagede, Ahad (18/1/2026).
Pada rumah penerima bantuan di wilayah Kotagede, Hasto menyoroti adanya potensi penguatan ekonomi keluarga. Pemilik rumah diketahui memiliki usaha konveksi skala kecil yang dinilai dapat berkembang apabila kondisi hunian menjadi lebih layak.
“Tema bedah rumah memang berbeda-beda. Yang satu fokus pada penyelamatan dan perawatan kehidupan, yang lain pada pembinaan usaha agar bisa berkembang dan membuka lapangan kerja,” katanya.
Hasto juga mengapresiasi peran dunia usaha serta semangat gotong royong masyarakat yang membuat program ini tetap berjalan tanpa ketergantungan pada anggaran pemerintah. Menurutnya, keberhasilan membedah 82 rumah sepanjang 2025 mencerminkan kuatnya solidaritas sosial di Kota Jogja.
“Gotong royong ini tidak pilah-pilih. Tidak harus ada sertifikat rumah, yang penting rumahnya jelas tidak layak huni dan penghuninya membutuhkan. Inilah kekuatan kita,” ucapnya.
Sementara itu, pemilik rumah di Baciro, Elisabeth Oktaviani, mengaku bersyukur rumahnya terpilih sebagai penerima program bedah rumah. Bantuan yang diterima akan difokuskan untuk memperbaiki atap rumah yang selama ini bocor di banyak bagian.
“Pernah diperbaiki, tapi masih bocor karena kondisinya sudah parah, jadi memang harus diperbaiki seluruhnya,” tuturnya.
Elisabeth juga mengungkapkan kondisi keluarganya yang serba terbatas. Anak pertamanya dalam kondisi sehat, tetapi penghasilannya belum cukup untuk membantu biaya perbaikan rumah. Anak keduanya mengalami gangguan mental sehingga membutuhkan pendampingan penuh, sementara anak ketiganya memiliki kelainan jantung yang membatasi aktivitas kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pentagon Siagakan 1.500 Pasukan untuk Antisipasi Kerusuhan
Advertisement
Museum Iptek Hainan Dibuka, Tawarkan Wisata Sains Imersif
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



