Advertisement

Gunungkidul Produksi Ikan 15.000 Per Ton Tahun, Konsumsi Masih Kalah

David Kurniawan
Selasa, 20 Januari 2026 - 23:47 WIB
Jumali
Gunungkidul Produksi Ikan 15.000 Per Ton Tahun, Konsumsi Masih Kalah Budi daya ikan air tawar. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kabupaten Gunungkidul memiliki potensi perikanan yang besar dengan produksi ikan yang mampu menembus angka 15.000 ton setiap tahun, namun capaian tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat kegemaran masyarakat dalam mengonsumsi ikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, M Johan Prasetyo, menjelaskan bahwa produksi tersebut merupakan akumulasi dari perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Berdasarkan data 2024, hasil perikanan tangkap di laut Gunungkidul mencapai sekitar 4.100 ton atau menyumbang sekitar 60 persen dari total produksi perikanan tangkap DIY yang berada di kisaran 7.000 ton.

Advertisement

“Hasil perikanan di laut Gunungkidul merupakan yang terbesar di DIY. Hal ini tak lepas adanya fasilitas Pelabuhan Sadeng di Kapanewon Girisubo,” kata Johan kepada Harian Jogja, Selasa (20/1/2026).

Meski menjadi penyumbang terbesar, Johan tidak menampik bahwa sebagian besar hasil tangkapan ikan justru dipasarkan ke luar daerah. Selain karena pertimbangan nilai ekonomi, keterbatasan sarana dan prasarana pendukung menjadi faktor utama distribusi ikan tidak terserap optimal di dalam wilayah.

Ia mencontohkan hingga kini Kota Wonosari belum memiliki fasilitas cold storage yang memadai untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan. Kondisi tersebut membuat pedagang lebih memilih menjual ikan ke daerah lain yang memiliki pasar lebih besar dan fasilitas pendukung yang lebih lengkap.

“Makanya banyak dijual ke luar daerah yang memiliki pasar lebih besar,” ungkapnya.

Kondisi serupa juga terjadi pada sektor perikanan budidaya. Dalam satu tahun, produksi ikan budidaya di Gunungkidul dapat mencapai sekitar 11.000 ton, namun angka tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan konsumsi ikan di tingkat masyarakat.

Menurut Johan, capaian angka gemar makan ikan pada 2025 baru berada di kisaran 32 kilogram per kapita per tahun. Angka ini masih tertinggal jauh dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai sekitar 56 kilogram per kapita per tahun.

“Dengan DIY juga masih kalah karena angkanya di kisaran 36 kilogram per kapita dalam setahun. Tapi, kalau dari sisi peringkat memang nomor tiga se-DIY, atau kegemarannya di atas Kabupaten Bantul dan Kulonprogo,” kata Johan.

Ia mengakui masih adanya persepsi keliru di tengah masyarakat yang menganggap konsumsi ikan membutuhkan biaya mahal. Pandangan tersebut umumnya hanya merujuk pada ikan laut, padahal ikan budidaya air tawar seperti nila dan lele memiliki harga yang relatif terjangkau dan hampir setara dengan daging ayam.

“Jangan salah juga, kandungan gizi dalam ikan juga lebih tinggi sehingga harus terus disosialisasikan. Bahwa memenuhi gizi tidak harus mengkonsumsi daging merah atau ayam, tapi bisa lewat ikan yang lebih murah harganya,” katanya.

Selain faktor persepsi harga, Johan menyebut ketersediaan ikan di pasaran juga belum semudah komoditas pangan lainnya. Ayam dan telur relatif mudah ditemukan di berbagai sudut wilayah, sementara ikan masih terbatas sehingga turut memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat.

“Kalau ayam dan telur sangat mudah, tapi kalau ikan lebih sulit sehingga ikut berpengaruh terhadap tingkat konsumsi,” katanya.

Meski demikian, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul terus berupaya meningkatkan angka gemar makan ikan. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari sosialisasi ke sekolah-sekolah hingga penyelenggaraan lomba olahan masakan berbahan baku ikan.

“Kami terus menggalakkan sosialisasi ke sekolah-sekolah maupun melaksanakan lomba olahan masakan berbahan baku ikan,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

4 Kasus Teror Hiu dalam 48 Jam di Australia, Warga Diminta Jauhi Laut

4 Kasus Teror Hiu dalam 48 Jam di Australia, Warga Diminta Jauhi Laut

News
| Selasa, 20 Januari 2026, 22:57 WIB

Advertisement

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Wisata
| Senin, 19 Januari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement