Advertisement

Anggaran Stunting Kelurahan di Kota Jogja Naik pada 2026

Stefani Yulindriani Ria S. R
Rabu, 21 Januari 2026 - 10:37 WIB
Abdul Hamied Razak
Anggaran Stunting Kelurahan di Kota Jogja Naik pada 2026 Foto ilustrasi. - Ist/Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Jogja meningkatkan alokasi anggaran penanganan stunting di tingkat kelurahan pada 2026. Kenaikan anggaran ini diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan sekaligus menurunkan angka stunting di Kota Jogja secara berkelanjutan.

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengungkapkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya anggaran penanganan stunting di setiap kelurahan berada di angka Rp100 juta. Pada 2026, anggaran tersebut dinaikkan menjadi Rp126 juta per kelurahan sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat intervensi stunting.

Advertisement

Hasto menjelaskan, penambahan anggaran tersebut difokuskan untuk memperkuat intervensi gizi pada kelompok berisiko tinggi stunting, mulai dari calon pengantin perempuan, ibu hamil, bayi di bawah dua tahun (baduta), hingga balita. Langkah ini dinilai strategis karena pencegahan sejak fase awal kehidupan menjadi kunci utama menekan angka stunting.

Menurut Hasto, kelompok berisiko tinggi stunting mencakup calon pengantin perempuan dengan kondisi tubuh kurus atau mengalami anemia, ibu hamil yang memiliki masalah gizi, serta anak baduta. Intervensi pada kelompok tersebut dinilai sangat penting untuk mencegah terjadinya stunting sejak dini.

“Anggaran ini kita gunakan untuk membeli makanan bergizi guna mencegah stunting di tingkat kelurahan,” katanya, Selasa (20/1/2026).

Lebih lanjut, Hasto menyampaikan bahwa anggaran penanganan stunting tersebut akan dimanfaatkan untuk penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa makanan dengan kandungan gizi yang memadai bagi kelompok berisiko tinggi stunting di setiap kelurahan. Ia menilai PMT diperlukan agar kebutuhan gizi setiap individu dapat terpenuhi sehingga risiko stunting dapat ditekan.

Selain intervensi gizi, Hasto menekankan bahwa faktor lingkungan juga memiliki pengaruh besar terhadap tingginya risiko stunting. Lingkungan kumuh, sanitasi yang buruk, serta keterbatasan akses air bersih menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kasus stunting.

“Karena itu, perbaikan lingkungan, kebersihan, dan akses air bersih juga bagian dari upaya menurunkan stunting,” ujarnya.

Meski alokasi anggaran penanganan stunting meningkat pada 2026, Hasto menegaskan bahwa penurunan angka stunting di Kota Jogja membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Jogja mendorong partisipasi aktif masyarakat melalui program Bapak Asuh Anak Stunting yang sejalan dengan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dari pemerintah pusat, dengan harapan upaya kolaboratif tersebut dapat menurunkan angka stunting di Kota Jogja tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Maidi OTT KPK, Bagus Panuntun Jadi Plt Wali Kota Madiun

Maidi OTT KPK, Bagus Panuntun Jadi Plt Wali Kota Madiun

News
| Rabu, 21 Januari 2026, 13:47 WIB

Advertisement

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Wisata
| Senin, 19 Januari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement