DPRD Gunungkidul Siapkan Perda Reklame, Bidik Optimalisasi PAD
DPRD Gunungkidul membahas Raperda Penyelenggaraan Reklame untuk mengoptimalkan PAD, menata reklame, dan memperkuat kepastian hukum.
Macan Tutul Jawa / Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Menlhk
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jejak tapak kaki misterius di lahan di Padukuhan Panggul Kulon, Candirejo, Semanu belum diketahui pasti apakah bekas pijakan macan atau hewan lain. Meski demikian, BKSDA DIY mensinyalir di wilayah Gunungkidul masih menjadi habibat macan jenis tutul.
Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, BKSDA DIY, Tugimayanto mengatakan, untuk jejak kaki hewan di area pembangunan Pondok Pesantren di Padukuhan Panggul Kulon, Candirejo masih dicari kepastiannya. Oleh karena itu, sejak Selasa (21/1/2026) dipasang tiga kamera trap guna memantau dan merekam adanya gerakan hewan liar di sekitar lokasi.
Meski belum diketahui secara pasti, namun menurut dia, di Gunungkidul masih ada habibat macan tutul. Keberadaan hewan ini ditemukan di wilayah Kapanewon Girisubo.
“Ada hasil kamera trap yang memperlihatkan seekor macan tutul berkeliaraan di wilayah Girisubo,” kata Tugimayanto, Rabu (21/1/2026).
Meski demikian, ia belum bisa memastikan lokasi pastinya. Namun dari sisi geografis, wilayah Girisubo masih tergolong alami dengan wilayah perbukitan dan hutannya masih lebat dan penuh dengan vegetasi tumbuhan.
“Yang jelas jauh dari permukiman,” katanya.
Di sisi lain, sambung Tugimayanto, untuk jumlah populasi dari macan tutul ini harus dilakukan kajian yang lebih mendalam lagi. “Untuk di Semanu, kalau benar macan, kemungkinan besar jenis tutul. Sebab, untuk harimau di Gunungkidul sudah tidak ada,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, BKSD DIY melakukan pemasangan kamera trap di sekitar lokasi penampakan jejak hewan yang diduga macan di Padukuhan Panggul Kulon, Candirejo, Semanu, Rabu (20/1/2026). Di Bulan Januari ini sudah ada tiga kali penampakan hewan yang hingga sekarang masih misterius tersebut.
Pengendali Ekosistem Hutan, BKSDA DIY, Taufan Kharis mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan laporan berkaitan dengan jejak yang diduga macan di dekat pembangunan pondok pesantren di Padukuhan Panggul Kulon, Candirejo, Semanu. Upaya pengamatan di sekitar lokasi telah dilakukan, tapi untuk memastikan jejak hewan ini, maka dilakukan pemasangan kamera trap di tiga titik.
Rencananya, kamera trap dipasang selama dua minggu. Namun, setiap minggunya akan dilakukan pengecekan untuk melihat hasil tangkapan gambar dari alat ini.
“Nanti kita lihat, apakah benar ada macan atau hewan liar lainnya yang tertangkap kamera yang dipasang,” katanya.
Jejak hewan yang mengebohkan warga Semanu muncul pertama kali pada 2 Januari 2026. Selanjutnya, pada 10 dan 15 Januari 2026 juga ditemukan jejak dengan ciri-ciri yang sama.
“Untuk bulan ini sudah ada tiga temuan jejak kemunculan macan di lokasi pembangunan ponpes. Terakhir muncul pada Kamis [15/1/2026] malam,” kata salah seorang pekerja pembangunan pondok, Heru Purwanto.
Menurut dia, warga percaya bahwa jejak itu merupakan jejak tapak kaki dari macan. Pasalnya, dari omongan antar warga, pernah ada yang melihat macan berkeliaran.
“Kemungkinan jejak-jejak ini adalah macan karena pernah ada yang melihat. Apalagi kalau dari bentuknya juga hewan dengan ukuran yang besar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul membahas Raperda Penyelenggaraan Reklame untuk mengoptimalkan PAD, menata reklame, dan memperkuat kepastian hukum.
PSEL DIY ditargetkan mengolah 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik 18-20 MW untuk sekitar 15.000 rumah.
KY memastikan seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 transparan. Publik bisa memantau proses dan memberi informasi rekam jejak calon.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Kereta pertama berangkat 05.05 WIB, tarif tetap Rp8.000.
PSEL Piyungan ditargetkan groundbreaking Desember 2026. Proyek senilai Rp2,5 triliun-Rp3 triliun ini mulai dibangun Januari 2027.
Polisi menyiagakan puluhan personel setelah massa membakar sejumlah kantor pemerintah di Ilaga, Puncak, Papua Tengah.