Advertisement
Status Siaga Bencana Gunungkidul Diperpanjang hingga 31 Maret 2026
Ilustrasi warga memotong pohon tumbang yang melintang di tengah jalan. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memutuskan memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga 31 Maret 2026 sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih mengintai wilayah Bumi Handayani. Kebijakan ini diambil seiring masih tingginya intensitas hujan dan risiko bencana turunan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menjelaskan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sebelumnya telah diberlakukan sejak November 2025 dengan masa berlaku tiga bulan dan dijadwalkan berakhir pada Januari 2026. Namun, hasil evaluasi terbaru menunjukkan perlunya perpanjangan status guna menjaga kesiapsiagaan daerah.
Advertisement
“Sudah kita kaji dan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Gunungkidul diperpanjang hingga akhir Maret,” kata Purwono saat ditemui, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, perpanjangan status siaga ini tidak lepas dari penyesuaian kebijakan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang juga menetapkan perpanjangan hingga akhir Maret. Selain itu, keputusan tersebut mengacu pada prakiraan musim hujan yang diprediksi masih berlangsung hingga pertengahan April 2026.
BACA JUGA
“Penetapan status ini juga sebagai bentuk kesiapsiagaan untuk menghadapi adanya potensi bencana di musim hujan,” ungkapnya.
Purwono menegaskan, kesiapsiagaan BPBD Gunungkidul tidak hanya berhenti pada penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Pihaknya telah menyiapkan personel tim reaksi cepat yang siap diterjunkan ke lapangan untuk melakukan penanganan darurat, termasuk evakuasi warga apabila terjadi bencana alam.
“Sebagai bentuk kesiapsiagaan, personel BPBD sudah disiapkan untuk diterjunkan pada saat terjadi musibah yang dapat terjadi kapan saja,” katanya.
Selain kesiapan personel, BPBD Gunungkidul juga telah menyusun pemetaan wilayah rawan bencana sebagai dasar mitigasi. Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, potensi banjir teridentifikasi di sepanjang aliran Kali Oya serta sejumlah titik di Kapanewon Girisubo.
Sementara itu, potensi tanah longsor banyak ditemukan di wilayah zona utara Gunungkidul yang meliputi Kapanewon Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, Semin, dan Ponjong. Adapun ancaman angin kencang disebut menyebar hampir merata di seluruh wilayah Kabupaten Gunungkidul. “Untuk angin kencang potensinya menyebar di seluruh wilayah di Gunungkidul,” ujar Purwono.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Edy Winarta, menambahkan bahwa sejak awal musim hujan sudah terjadi sejumlah kejadian bencana, mulai dari tanah longsor, bangunan ambruk akibat terjangan angin kencang, hingga banjir di beberapa lokasi. Meski demikian, ia memastikan seluruh kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
Guna menekan risiko dampak bencana hidrometeorologi, Edy mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan langkah mitigasi sederhana, seperti kerja bakti membersihkan saluran air hujan dan memangkas pohon yang sudah terlalu rindang. Ia juga mengingatkan pentingnya mengikuti perkembangan informasi cuaca terkini dari BMKG sebagai acuan aktivitas harian, agar kewaspadaan masyarakat tetap terjaga di tengah potensi cuaca ekstrem yang masih berlanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Rawan Penularan Virus Nipah, Thailand Perketat Skrining Penerbangan
Advertisement
Festival Lampion Dinosaurus Zigong Tarik Wisatawan ke Sichuan
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal SIM Keliling di Jogja Senin 26 Januari 2026, Cek Lokasinya
- Bus DAMRI Jogja-YIA, Cek Jadwal Lengkap 26 Januari 2026
- Jadwal SIM Keliling di Kulonprogo Hari Ini, Senin 26 Januari 2026
- Cek Jalur Trans Jogja ke Sejumlah Lokasi, 26 Januari 2026
- Ruwahan Cokrodiningratan Jaga Tradisi Jawa Sambut Ramadan
Advertisement
Advertisement



