Seragam Bekas Kakak Tetap Boleh Dipakai Saat Masuk Sekolah
Disdikpora Bantul menegaskan siswa baru boleh memakai seragam bekas kakak. Sekolah juga dilarang menjual atau mewajibkan pembelian seragam.
Sejumlah armada pengangkut sampah lalu lalang di sekitar TPA Piyungan, beberapa waktu lalu. - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL—Asap pembakaran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan kembali dikeluhkan warga Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, Bantul, karena dinilai mengganggu kesehatan dan kenyamanan, sehingga Lurah Bawuran berencana melayangkan surat keberatan resmi kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY.
Keluhan paling banyak disampaikan warga Padukuhan Bawuran I RT 6 yang lokasinya berada paling dekat dengan cerobong pembakaran TPA Piyungan, dengan dampak asap semakin terasa saat cuaca hujan dan dingin.
Lurah Bawuran, Supardiono, mengatakan asap tersebut berasal dari aktivitas pembakaran sampah di dalam kawasan TPA Piyungan yang dikelola DLH DIY dan beroperasi selama 24 jam.
“Informasi dari warga dan Bamuskal menyebutkan pembakaran itu milik DLH Provinsi dan beroperasi 24 jam. Setelah saya cek langsung dan mencari informasi, memang benar asapnya sangat parah,” kata Supardiono, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan, saat hujan turun, kondisi udara yang dingin membuat asap tidak naik ke atmosfer, melainkan terperangkap dan menyebar ke kawasan permukiman.
“Kemarin waktu hujan tetap beroperasi. Asapnya terperangkap dan akhirnya menyebar ke rumah-rumah warga,” ujarnya.
Meski penimbunan sampah di TPA Piyungan telah dihentikan sejak Januari 2026, Supardiono menyebut aktivitas pembakaran masih berlangsung dengan tiga hingga empat cerobong aktif.
“Kalau penimbunan sudah ditutup, tapi sekarang diganti pembakaran. Itu yang justru menimbulkan masalah baru,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Supardiono menjadwalkan survei lapangan bersama perangkat kalurahan untuk memetakan dampak langsung terhadap warga terdampak, sekaligus menyiapkan surat keberatan resmi kepada DLH DIY.
“Saya akan bersurat ke DLH Provinsi terkait keberatan pembakaran sampah yang dilakukan 24 jam nonstop. Surat juga akan ditembuskan ke pihak terkait dan warga,” tegasnya.
Menurutnya, aktivitas pembakaran di kawasan TPA Piyungan telah berlangsung sejak tahun lalu. Namun, intensitas pembakaran selama 24 jam diduga meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Dampak asap paling dirasakan warga RT 6 Bawuran I, dengan jumlah terdampak diperkirakan sekitar 300 jiwa, terutama warga perumahan di sisi barat TPA Piyungan.
“Warga mengeluh sesak napas dan merasa sangat terganggu. Karena itu saya harus mengambil langkah dan menyampaikannya secara resmi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disdikpora Bantul menegaskan siswa baru boleh memakai seragam bekas kakak. Sekolah juga dilarang menjual atau mewajibkan pembelian seragam.
6 penyebab notifikasi WhatsApp telat masuk: koneksi bermasalah, notifikasi mati, data latar belakang, mode Jangan Ganggu, aplikasi usang, dan perlu restart.
Gelombang panas ekstrem di Perancis tewaskan 2.025 orang dalam sepekan. Suhu 40°C, rumah sakit penuh, kamar mayat kewalahan. Krisis iklim semakin nyata.
Brasil tersingkir di 16 besar Piala Dunia 2026 usai kalah 1-2 dari Norwegia. Ancelotti sebut ini awal siklus baru, bukan akhir
Tiga pemain Norwegia di Piala Dunia 2026 ternyata merupakan putra anggota skuad Norwegia pada Piala Dunia 1994. Kisah lintas generasi menarik perhatian dunia.
KPK mengungkap Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah melaporkan penolakan gratifikasi usai OTT Kuansing. Laporan kini sedang diverifikasi.