120 Personel Polres Bantul Disiagakan Hadapi Ancaman Karhutla
Polres Bantul menyiagakan 120 personel untuk mengantisipasi Karhutla di tengah ancaman kemarau lebih kering akibat El Nino.
Sejumlah armada pengangkut sampah lalu lalang di sekitar TPA Piyungan, beberapa waktu lalu. - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL—Asap pembakaran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan kembali dikeluhkan warga Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, Bantul, karena dinilai mengganggu kesehatan dan kenyamanan, sehingga Lurah Bawuran berencana melayangkan surat keberatan resmi kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY.
Keluhan paling banyak disampaikan warga Padukuhan Bawuran I RT 6 yang lokasinya berada paling dekat dengan cerobong pembakaran TPA Piyungan, dengan dampak asap semakin terasa saat cuaca hujan dan dingin.
Lurah Bawuran, Supardiono, mengatakan asap tersebut berasal dari aktivitas pembakaran sampah di dalam kawasan TPA Piyungan yang dikelola DLH DIY dan beroperasi selama 24 jam.
“Informasi dari warga dan Bamuskal menyebutkan pembakaran itu milik DLH Provinsi dan beroperasi 24 jam. Setelah saya cek langsung dan mencari informasi, memang benar asapnya sangat parah,” kata Supardiono, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan, saat hujan turun, kondisi udara yang dingin membuat asap tidak naik ke atmosfer, melainkan terperangkap dan menyebar ke kawasan permukiman.
“Kemarin waktu hujan tetap beroperasi. Asapnya terperangkap dan akhirnya menyebar ke rumah-rumah warga,” ujarnya.
Meski penimbunan sampah di TPA Piyungan telah dihentikan sejak Januari 2026, Supardiono menyebut aktivitas pembakaran masih berlangsung dengan tiga hingga empat cerobong aktif.
“Kalau penimbunan sudah ditutup, tapi sekarang diganti pembakaran. Itu yang justru menimbulkan masalah baru,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Supardiono menjadwalkan survei lapangan bersama perangkat kalurahan untuk memetakan dampak langsung terhadap warga terdampak, sekaligus menyiapkan surat keberatan resmi kepada DLH DIY.
“Saya akan bersurat ke DLH Provinsi terkait keberatan pembakaran sampah yang dilakukan 24 jam nonstop. Surat juga akan ditembuskan ke pihak terkait dan warga,” tegasnya.
Menurutnya, aktivitas pembakaran di kawasan TPA Piyungan telah berlangsung sejak tahun lalu. Namun, intensitas pembakaran selama 24 jam diduga meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Dampak asap paling dirasakan warga RT 6 Bawuran I, dengan jumlah terdampak diperkirakan sekitar 300 jiwa, terutama warga perumahan di sisi barat TPA Piyungan.
“Warga mengeluh sesak napas dan merasa sangat terganggu. Karena itu saya harus mengambil langkah dan menyampaikannya secara resmi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Bantul menyiagakan 120 personel untuk mengantisipasi Karhutla di tengah ancaman kemarau lebih kering akibat El Nino.
Kemenhub memproses 35 izin khusus pesawat registrasi asing untuk mendukung pemadaman karhutla dengan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan.
Gempa M4,0 kembali mengguncang NTT pada 23 Agustus 2026. BNPB mencatat 53.971 rumah rusak akibat rangkaian gempa sejak 15 Agustus.
BMKG mendeteksi 696 hotspot di Kalsel pada 23 Agustus 2026. Sebanyak 29 titik masuk kategori tinggi dan risiko karhutla didominasi indikator tinggi.
Bantul memiliki indeks risiko bencana 96,02 dengan kelas sedang. Risiko gempa bumi tercatat tinggi berdasarkan IRBI 2025.
Studi 1.350 pengemudi di Inggris mengungkap fitur mobil yang jarang digunakan. Bluetooth justru menjadi teknologi yang paling sering dipakai.