Advertisement

UGM Jelaskan Tanah Bergerak di Tegal Bertipe Rayapan, Berbahaya

Catur Dwi Janati
Rabu, 11 Februari 2026 - 09:37 WIB
Abdul Hamied Razak
UGM Jelaskan Tanah Bergerak di Tegal Bertipe Rayapan, Berbahaya Foto ilustrasi tanah ambles, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Guru Besar Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa fenomena tanah bergerak yang terjadi di wilayah Tegal merupakan tipe rayapan (creep). Pergerakan ini dipicu oleh keberadaan lapisan lempung biru yang memiliki sifat mudah mengembang ketika jenuh air, sehingga berisiko tinggi bagi kawasan permukiman.

Dwikorita memaparkan, secara umum terdapat empat tipe pergerakan tanah yang dikenal dalam kajian geologi. Tipe pertama adalah gerakan jatuhan atau runtuhan, yang umumnya terjadi pada lereng batuan yang sangat curam atau tegak. Pada kondisi tersebut, material jatuh bebas akibat gaya gravitasi tanpa melalui bidang tertentu.

Advertisement

Tipe kedua yakni gerakan tanah pada lereng miring yang dikenal sebagai luncuran atau longsoran. Gerakan ini dapat terjadi pada lereng landai hingga curam, dengan material berupa tanah, batu, atau campurannya. “Gerakannya melalui bidang luncur. Berbeda dengan runtuhan yang langsung jatuh bebas,” jelas Dwikorita, Selasa (10/2/2026).

Adapun tipe ketiga adalah gerakan tanah berbentuk aliran. Pergerakan ini terjadi pada lereng yang mengalami kejenuhan air. Dwikorita mencontohkan kasus di Banjarnegara dan Majenang, di mana longsoran berubah menjadi aliran karena kondisi tanah yang sangat basah. Aliran tersebut bahkan mampu bergerak hingga jarak lebih dari satu kilometer.

Sementara itu, tipe keempat merupakan pergerakan tanah yang berlangsung sangat lambat dan dikenal sebagai rayapan. Gerakan ini biasanya terjadi di lereng landai, bahkan pada permukaan yang relatif mendatar. “Yang di Tegal itu termasuk rayapan karena pergerakannya pelan,” tegas Dwikorita.

Ia menambahkan, pergerakan tanah tipe rayapan berbeda dengan longsor yang umumnya terjadi di lereng curam dan bergerak cepat hingga memicu korban jiwa. Rayapan memang tidak berlangsung mendadak, namun berdampak merusak infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan bangunan rumah. Risiko fatal muncul ketika bangunan mengalami kerusakan parah hingga ambruk.

Fenomena rayapan tanah banyak dijumpai di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Barat. Hal ini berkaitan dengan keberadaan lapisan lempung abu-abu kebiruan atau lempung biru yang mengandung mineral montmorillonit. Jenis lempung ini dapat mengembang hingga delapan kali lipat saat jenuh air.

“Ketika jenuh air, lempung biru ini teksturnya seperti pasta gigi. Namun saat kering, dia menjadi sangat pejal,” ujar Dwikorita. Kondisi tersebut menyebabkan tanah kehilangan kekuatannya dan memicu pergerakan perlahan pada lapisan di atasnya.

Dampaknya, bangunan maupun infrastruktur yang berdiri di atas lapisan tersebut berpotensi mengalami retakan, amblas, hingga terputus, terutama saat tanah terus-menerus jenuh air akibat hujan. “Rumah-rumah yang berada di atas tanah merayap itu lama-lama bisa rusak dan ambruk. Itulah yang berbahaya,” katanya.

Dwikorita menilai pergerakan tanah di Tegal yang baru terasa saat ini kemungkinan dipicu oleh curah hujan tinggi. Selain itu, beban bangunan di atas tanah juga dapat memperparah ketidakstabilan lapisan lempung. Ia menduga pergerakan tersebut sebenarnya sudah berlangsung lama, namun tidak terdeteksi karena berlangsung perlahan.

Secara geologi, wilayah Tegal memiliki formasi lapisan lempung biru yang juga ditemukan di sejumlah daerah lain seperti Ngawi dan Grobogan. Karena sifatnya yang mudah bergerak, Dwikorita menilai kawasan dengan karakter tanah tersebut tidak ideal untuk permukiman.

“Kalau sudah terlanjur menjadi hunian, relokasi sebetulnya pilihan paling aman. Idealnya, kondisi tanah dipetakan sejak awal sebelum membangun,” ujarnya. Menurutnya, pengaturan drainase dapat menjadi solusi jika pembangunan belum terlanjur dilakukan. Namun jika lempung sudah mengembang, kondisinya akan sulit dikendalikan.

Dwikorita juga menegaskan bahwa pergerakan tanah tidak terjadi secara tiba-tiba. Biasanya diawali dengan retakan kecil yang perlahan membesar dalam rentang waktu panjang. “Tidak ujug-ujug. Prosesnya bisa setahun lebih sampai akhirnya terlihat parah seperti sekarang,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

DKPP Pecat Tiga Anggota KPU karena Pelanggaran Kode Etik

DKPP Pecat Tiga Anggota KPU karena Pelanggaran Kode Etik

News
| Rabu, 11 Februari 2026, 09:27 WIB

Advertisement

Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari

Siap-Siap Long Weekend! Libur Awal Ramadan Jatuh pada 18-20 Februari

Wisata
| Senin, 09 Februari 2026, 19:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement