Advertisement
Suara Ibu Indonesia Desak Negara Lindungi Aktivis dari Teror Air Keras
Sejumlah kalangan masyarakat sipil membawa poster berisi pesan dukungan terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus di Bundaran UGM, Sabtu (14/3/2026). Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono.
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Komunitas Suara Ibu Indonesia melontarkan kritik tajam terhadap negara yang dinilai belum mampu memberikan jaminan keamanan serta perlindungan bagi masyarakat sipil dan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM).
Pernyataan ini merespons insiden penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, sebagai bentuk intimidasi nyata yang terus berulang di tanah air.
Advertisement
Perwakilan Suara Ibu Indonesia, Cila, menegaskan bahwa serangan zat kimia terhadap Andrie merupakan sebuah upaya percobaan pembunuhan yang terencana.
Saat ditemui di kawasan Bundaran UGM pada Sabtu (14/3/2026), ia menyebut pola serangan ini serupa dengan kasus yang menimpa mantan penyidik KPK, Novel Baswedan, yang mengakibatkan cacat permanen.
BACA JUGA
Cila menilai peristiwa ini menambah daftar panjang represi terhadap suara kritis, termasuk kasus kriminalisasi di wilayah Kalimantan Timur yang hingga kini dalangnya masih belum tersentuh hukum.
“Andrie adalah sekian dari korban yang mungkin sudah banyak. Ada juga kriminalisasi di Kalimantan Timur, tidak lama sebelum kejadian Andrie. Negara belum berani mengungkap dalangnya. Hari ini kasus dibiarkan terus menerus,” kata Cila ditemui di Bundaran UGM, Sabtu (14/3).
Ia mendesak pemerintah agar memiliki kemauan politik (political will) yang kuat untuk membongkar aktor intelektual di balik teror tersebut. Cila juga mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk membangun solidaritas guna menekan pemerintah agar segera memberikan keadilan bagi para aktivis.
Senada dengan itu, Firda Ainun Ula yang juga perwakilan komunitas tersebut, menyebut aksi penyiraman air keras sebagai bentuk teror sistematis yang dipertontonkan di ruang publik.
“Teror kepala babi hingga teror penculikan adalah teror yang dipertontonkan di negara. Teror semacam ini bisa dibaca bahwa ada pihak yang takut terhadap suara-suara yang berani,” kata Ainun.
Menurutnya, tindakan represif ini secara langsung menghancurkan nilai-nilai "kerja perawatan" yang selama ini ditanamkan oleh para ibu, seperti pemahaman tentang batas benar-salah serta keadilan.
Suara Ibu Indonesia menekankan bahwa pekerjaan pembela HAM memiliki kemiripan dengan peran seorang ibu dalam merawat nilai kemanusiaan.
Andrie Yunus dipandang sebagai sosok yang mengasihi sesama dan merupakan seorang anak yang keselamatan jiwanya selalu didoakan oleh ibunya.
Oleh karena itu, solidaritas ini muncul sebagai bentuk empati mendalam terhadap penderitaan yang dialami korban dan keluarganya akibat ketidakadilan yang terjadi.
Dalam aksi solidaritas yang digelar di Bundaran UGM tersebut, mereka menyampaikan tuntutan tegas kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk meringkas pelaku teror dalam waktu maksimal tujuh hari atau selambat-lambatnya pada 21 Maret 2026.
Polri juga diminta untuk membuka motif dan identitas pelaku kepada publik guna transparansi hukum. Selain itu, pemerintah didorong untuk mengelola negara secara bersih, kompatibel, serta konsisten berpihak pada kepentingan rakyat kecil agar perlindungan terhadap aktivis pro-demokrasi bukan sekadar wacana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kapolri Imbau Pemudik Lebaran 2026 Jangan Memaksakan Berkendara
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Imsak, Subuh hingga Buka Puasa Jogja Sabtu 14 Maret 2026
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 14 Maret 2026 dari Palur hingga Tugu
- Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 14 Maret 2026 dari Tugu ke Palur
- Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 14 Maret 2026
- Jadwal KA Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 14 Maret 2026, Cek Rutenya
Advertisement
Advertisement






