Advertisement

Kraton Keluarkan Lima Gunungan Garebeg Syawal, Ini Maknanya

Stefani Yulindriani Ria S. R
Jum'at, 20 Maret 2026 - 16:17 WIB
Sugeng Pranyoto
Kraton Keluarkan Lima Gunungan Garebeg Syawal, Ini Maknanya Warga berebut gunungan yang dibagikan dalam Grebeg Syawal di Masjid Gedhe Kauman pada Jumat (20/3/2026). Kali ini, petugas membagikan gunungan tersebut untuk mengantisipasi kericuhan. -Stefani Yulindriani - Harian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA–Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat mengeluarkan lima jenis gunungan dalam prosesi Garebeg Syawal yang digelar Jumat (20/3/2026). Gunungan tersebut menjadi simbol sedekah raja kepada rakyat sekaligus wujud rasa syukur atas Idulfitri.

Perwakilan Kraton Jogja, KRT Kusumonegoro, menyampaikan terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan, yakni Gunungan Kakung, Gunungan Estri atau Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan.

Advertisement

Seluruh gunungan dikeluarkan dari keraton secara berurutan sesuai jenisnya.
“Akan ada dua Gunungan Kakung, masing-masing untuk Masjid Gedhe Kauman dan Pura Pakualaman,” ujarnya pada Jumat (20/3/2026).

Sementara itu, untuk Kompleks Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen mendapatkan bagian gunungan berupa pareden wajik. Adapun Gunungan Pawuhan disiapkan khusus untuk dibagikan kepada Abdi Dalem Pengulon.

KRT Kusumonegoro menjelaskan Garebeg merupakan salah satu upacara rutin Keraton Jogja yang digelar untuk memperingati hari besar Islam, seperti Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Secara etimologis, kata garebeg berasal dari bahasa Jawa yang berarti berjalan bersama-sama di belakang Ngarsa Dalem atau sosok yang dimuliakan.

“Garebeg di Kraton adalah Hajad Dalem, yakni upacara budaya sebagai wujud syukur yang diwujudkan dengan membagikan rezeki kepada masyarakat melalui gunungan,” jelasnya.

Dia menambahkan gunungan melambangkan kemakmuran Kraton yang dibagikan kepada rakyat. Isi gunungan yang berupa hasil bumi menjadi simbol kesejahteraan tanah Mataram.

Rangkaian Garebeg Syawal ditutup dengan prosesi Bedhol Songsong yang digelar pada malam hari di Kagungan Dalem Gedhong Sasana Hinggil Dwi Abad, sisi utara Alun-alun Selatan Jogja. Prosesi ini merupakan simbol berakhirnya seluruh rangkaian Hajad Dalem Garebeg dan Ngabekten.

Sementara itu, Bedhol Songsong secara harfiah berarti mencabut payung sebagai tanda kepulangan para pejabat yang sebelumnya melakukan pisowanan atau menghadap Sultan. Meski tradisi menancapkan payung tidak lagi dilakukan, prosesi penutup tetap dilestarikan melalui pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Prabowo Buka Opsi Tim Independen Usut Kasus Penyiraman Air Keras

Prabowo Buka Opsi Tim Independen Usut Kasus Penyiraman Air Keras

News
| Jum'at, 20 Maret 2026, 19:47 WIB

Advertisement

Batagor Yunus Bandung Jadi Buruan Pemudik Saat Lebaran

Batagor Yunus Bandung Jadi Buruan Pemudik Saat Lebaran

Wisata
| Minggu, 15 Maret 2026, 20:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement