Pemkot Jogja Dorong UMK Batik Bersatu Lewat Koperasi Sektor Riil
Pemkot Jogja mendorong UMK batik bergabung dalam koperasi sektor riil untuk memperkuat produksi, pemasaran, pembiayaan, dan branding.
Salah satu budidaya maggot yang dikelola Bank Sampah Sekar Arum, Danurejan. Istimewa/ Dok. Bank Sampah Sekar Arum
Harianjogja.com, JOGJA—Berangkat dari keresahan warga soal sampah rumah tangga, Bank Sampah Sekar Arum di Kelurahan Bausasran kini justru menorehkan prestasi di Kota Jogja. Transformasi dari kelompok tani menjadi pengelola sampah terpadu membawa dampak nyata bagi lingkungan sekaligus ekonomi warga.
Penghargaan tersebut diraih dalam peringatan satu tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo dan Wawan Harmawan. Capaian ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat mulai menunjukkan hasil.
Pengelola Bank Sampah Sekar Arum, Emmeik Sihmanto Sriharini, menjelaskan awal mula kelompok tersebut beralih dari kegiatan pertanian ke pengelolaan sampah sekitar setahun lalu. Perubahan ini dipicu keresahan warga sekaligus dorongan pemerintah untuk mulai mengolah sampah dari tingkat rumah tangga.
“Awalnya kita dari kelompok tani kemudian jadi bank sampah. Karena kegelisahan kita dalam pengolahan sampah di Jogja, juga dari seruan pak wali kota agar mengolah sampah dari tingkat rumah tangga,” ujarnya, Senin (30/1/2026).
Kini, Sekar Arum memiliki 15 anggota aktif yang mengelola sampah secara terpadu. Sampah tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan sumber daya yang memiliki nilai manfaat.
Pengelolaan dimulai dari pemilahan sampah di rumah. Sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk budi daya maggot.
“Sampah dapur yang tiap hari kita anggap remeh, ternyata bisa lebih bermanfaat. Semua dimulai dari rumah, warga sudah terbiasa memilah sejak awal,” katanya.
Hasil pengolahan tersebut dimanfaatkan kembali oleh warga. Maggot digunakan sebagai pakan ikan dan ternak, sementara sisa olahannya menjadi pupuk untuk menanam sayuran yang kemudian dikonsumsi atau dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
Meski menunjukkan perkembangan positif, tantangan masih dihadapi, terutama dalam membangun kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari rumah.
“Kendalanya lebih ke kesadaran memilah dari rumah. Kadang masih ada yang membawa sampah dalam keadaan kotor atau belum dipilah dengan benar,” ucapnya.
Ke depan, Sekar Arum berharap partisipasi masyarakat semakin meningkat sehingga pengelolaan sampah bisa dilakukan secara mandiri dan memberi nilai tambah ekonomi, termasuk melalui produk kerajinan dari sampah.
“Harapannya warga semakin semangat memilah sampah, lingkungan jadi lebih bersih, dan syukur-syukur kita bisa mengolah sampah sendiri jadi barang kerajinan yang bernilai lebih tinggi lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkot Jogja mendorong UMK batik bergabung dalam koperasi sektor riil untuk memperkuat produksi, pemasaran, pembiayaan, dan branding.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 26 Agustus 2026 dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Studi 1.350 pengemudi di Inggris mengungkap banyak fitur canggih mobil jarang digunakan, termasuk teknologi keselamatan dan kenyamanan.
Perubahan aliran sungai membuat Pantai Baron Gunungkidul punya wajah baru dan menarik wisatawan. Pemkab meminta kawasan tetap bersih dan tertib.
Fajar/Fikri tetap di peringkat 2 dunia ranking BWF per 25 Agustus 2026. Sabar/Reza juga masuk 10 besar di posisi ketujuh.
Aplikasi iPhone tidak muncul di Home Screen atau Search? Simak cara menemukan aplikasi tersembunyi di iOS 18 melalui Settings dan App Library.