Advertisement
Langencarita Angkat Isu Lingkungan, Edukasi Anak lewat Tembang
Workshop Langencarita 2026, Kamis (16/4 - 2026).
Advertisement
JOGJA—Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY menyelenggarakan Workshop Langencarita di Joglo Panembahan, Kamis (16/4/2026). Workshop Langencarita 2026 menegaskan bahwa pertunjukan drama musikal Jawa ini bukan sekadar tontonan, tetapi sarana efektif membangun kesadaran lingkungan dan karakter anak melalui tembang.
Kegiatan bertema cinta alam dan kesadaran lingkungan itu digelar pada Kamis (16/4/2026) dengan menghadirkan tiga narasumber pegiat Langencarita, yakni Tri Yulianti Setyasari, Muhammad Bagus Febriyanto, dan Ndaru Murdopo.
Advertisement
Tri Yulianti Setyasari menyebut tema Langencarita kini berkembang mengikuti zaman. Jika dulu banyak mengangkat cerita sejarah seperti Aji Saka atau Arya Penangsang, kini tema lebih dekat dengan kehidupan anak, termasuk isu lingkungan dan sosial.
“Tema sekarang sudah kekinian, seperti lingkungan hidup dan hubungan sosial anak. Bahkan tokoh yang diangkat bisa orang tua atau guru, tidak hanya tokoh sejarah,” ujar Yuli.
BACA JUGA
Menurutnya, nilai pendidikan karakter dalam Langencarita disampaikan melalui tembang dan bahasa yang digunakan. Karena diperankan anak-anak, pemilihan diksi harus diperhatikan agar tidak memberi contoh buruk.
“Jangan sampai anak setelah Langencarita malah ikut bahasa yang tidak baik. Bahasanya harus bagus supaya masuk ke alam bawah sadar anak sebagai sesuatu yang positif,” ujarnya.
Ia menegaskan tembang menjadi unsur utama karena tidak hanya menggerakkan alur cerita, tetapi juga berperan dalam membentuk kehalusan budi anak.
Sementara itu, Muhammad Bagus Febriyanto menyoroti pentingnya menyesuaikan tembang dengan kemampuan vokal anak, terutama terkait ambitus atau jangkauan nada.
“Sering kali kita memaksakan anak menyanyikan nada yang terlalu tinggi, padahal ambitus suara anak ada di wilayah tengah,” ucap Bagus.
Selain ambitus, ia menekankan pentingnya teks tembang yang sederhana dan dekat dengan kehidupan anak agar mudah dipahami dan dihayati.
“Bahasa jangan terlalu sulit. Anak perlu memahami makna tembang supaya penjiwaannya terasa, bukan sekadar menirukan,” ujarnya.
Ndaru Murdopo menambahkan, aspek artistik seperti properti dan tata busana juga harus disesuaikan dengan tema lingkungan yang diangkat.
“Pemilihan bahan properti dan kostum perlu dipikirkan, apakah berpotensi menjadi sampah atau tidak. Ini penting karena sesuai tema kesadaran lingkungan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar desain panggung tidak mendominasi hingga menghilangkan fokus pada pemain anak.
“Jangan sampai set terlalu besar sehingga anak sebagai tokoh utama justru tenggelam. Proporsi harus diperhatikan,” katanya.
Ndaru menekankan pentingnya melibatkan anak dalam proses kreatif, termasuk dalam menentukan konsep artistik, agar nilai edukasi semakin kuat.
Melalui workshop ini, Langencarita tidak hanya diposisikan sebagai seni pertunjukan, tetapi juga media edukasi yang relevan dengan isu kekinian, khususnya dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement






