Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air

David Kurniawan
David Kurniawan Senin, 03 Agustus 2026 19:17 WIB
Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air

Ilustrasi Kekeringan - Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air seiring memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Imbauan ini disampaikan menyusul mulai terbatasnya pasokan air di sejumlah wilayah serta meningkatnya laporan kekeringan di beberapa kapanewon.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan hasil koordinasi dengan BMKG Yogyakarta menunjukkan Agustus menjadi periode puncak musim kemarau di wilayah Gunungkidul. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga awal November mendatang sebelum memasuki masa peralihan musim.

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan. Berbagai langkah penanganan juga terus dilakukan, termasuk penyaluran bantuan air bersih ke wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

“Agustus menjadi puncak musim kemarau. Diprediksi kemarau berakhir pada dasarian pertama November mendatang,” kata Purwono saat dihubungi, Senin (3/8/2026).

Menurut dia, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran dalam menggunakan air karena debit sejumlah sumber air mulai berkurang. Penggunaan air sebaiknya diprioritaskan untuk kebutuhan pokok sehari-hari seperti memasak, mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Ia mengingatkan warga agar tidak menggunakan air secara berlebihan, terutama untuk aktivitas yang tidak mendesak. Dengan pengelolaan yang bijak, persediaan air yang dimiliki masyarakat diharapkan dapat bertahan lebih lama selama musim kemarau berlangsung.

“Jangan dihambur-hamburkan sehingga harus berhemat agar stok yang dimiliki mencukupi,” ujarnya.

Di sisi lain, BPBD Gunungkidul terus mengintensifkan distribusi bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Hingga awal Agustus, total 184 tangki air telah disalurkan kepada warga yang membutuhkan.

Kapanewon Rongkop menjadi wilayah dengan jumlah distribusi terbesar, yakni mencapai 80 tangki air. Selanjutnya, bantuan sebanyak 64 tangki disalurkan ke wilayah Kapanewon Tepus.

Adapun warga di Kapanewon Panggang dan Wonosari masing-masing menerima 16 tangki air bersih. Sementara itu, Kapanewon Saptosari memperoleh distribusi sebanyak delapan tangki.

Selain bantuan yang disalurkan BPBD, sejumlah kapanewon juga melakukan penanganan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

“Hingga saat ini, juga sudah ada delapan kapanewon yang melakukan droping air secara mandiri,” kata Purwono.

Terkait pembiayaan penanganan kekeringan, BPBD memastikan ketersediaan anggaran masih dalam kondisi aman. Selain menggunakan anggaran reguler, pemerintah daerah juga memiliki dukungan dana dari pos Belanja Tak Terduga (BTT) yang dapat dimanfaatkan apabila kebutuhan penanganan meningkat.

Menurut Purwono, mekanisme tersebut memastikan distribusi bantuan air bersih tetap berjalan meskipun kebutuhan masyarakat bertambah selama puncak kemarau berlangsung.

“Kalau anggaran reguler habis, maka kami bisa mengakses BTT sehingga penyaluran bantuan tetap dapat dilaksanakan,” katanya.

Tak hanya memicu krisis air bersih, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran lahan dan hutan di Gunungkidul. Kondisi vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan BPBD Gunungkidul, Handoko, mengatakan pihaknya mencatat peningkatan kejadian kebakaran selama musim kemarau tahun ini.

Hingga saat ini, terdapat lebih dari 18 titik kebakaran lahan dan hutan yang berhasil ditangani petugas. Lokasi kebakaran tersebar di sejumlah wilayah dengan objek yang terbakar mulai dari lahan tebu hingga kawasan hutan jati.

Menurut Handoko, jumlah kejadian yang sebenarnya berpotensi lebih banyak karena tidak seluruh kebakaran dilaporkan kepada petugas.

“Yang terbakar ada lahan tebu hingga hutan jati. Delapan belas titik kebakaran tercatat merupakan lokasi yang berhasil dipadamkan, kalau jumlahnya bisa lebih banyak karena ada yang tidak dilaporkan,” katanya.

BPBD pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, termasuk tidak membakar sampah sembarangan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran di area lahan kering maupun kawasan hutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online