Penyandang Autisme Belum Didukung Pendidikan Memadai

Pendidikan anak-anak autis - JIBI/Antara
02 April 2018 11:25 WIB Tim Lapsus Harian Jogja Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah punya pekerjaan berat agar penyandang autisme bisa hidup secara layak. Fasilitas pendidikan harus diperbaiki, sedangkan persepsi masyarakat yang keliru semestinya diluruskan.

Ahmad Salehudin, sukarelawan Fajar Nugraha Autism Center mengatakan masih banyak kekurangan dalam pemenuhan hak anak-anak autis di dalam pendidikan. “Seperti fasilitas pembelajaran maupun metode terapi,” kata Saleh kepada harianjogja.com, Sabtu (31/3/2018).

Dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini mengatakan persoalan sumber daya manusia membelit hampir semua lembaga pendidikan yang menangani masalah anak-anak autis. Selain itu, kurikulum juga masih jauh dari sempurna. Pemerintah masih menilai penanganan anak-anak autis cukup di sekolah luar biasa (SLB).

“Padahal tidak semua bisa dilakukan di SLB, termasuk juga metodenya. Anak-anak yang baru sekolah belum bisa mandiri sehingga butuh penanganan khusus, mulai kontak mata dan lainnya. Di SLB, satu guru biasanya menangani empat anak padahal idealnya satu anak ditangani satu guru karena penanganan anak-anak autis berbeda,” ujar dia.

Persoalan lain adalah ketersediaan fasilitas pendidikan bagi anak-anak autis yang masih kurang memadai. Persepsi orang tua yang menganggap autisme sebagai aib juga perlu dikoreksi. “Orang tua yang harus menyadari bahwa anaknya autis. Sampai saat ini kadang orang tua tidak mau anaknya dikatakan autis, ini menjadi masalah,” ujar dia.

Di sekolah Autistik Fajar Nugraha, lanjut Saleh, ada tiga level anak-anak autis yang diasuh. Kategori pertama mereka yang bisa dilatih sesuai kemampuannya. Kategori kedua anak autis yang hanya memiliki kemampuan khusus, dan kategori terakhir adalah mereka yang perlu mendapat perawatan.

Sekolah khusus autis Bina Anggita yang terletak di Banguntapan, Bantul, juga menerapkan sistem satu guru satu anak. Sekolah ini memiliki setidaknya 60 siswa mulai dari jenjang TK hingga vokasi. Namun, hanya sekitar 39 anak yang mengikuti pembelajaran secara aktif.

Kustri Hariyati, staf pengajar, mengatakan beberapa anak lainnya belum aktif karena mengikuti terapi. Satu guru khusus dibutuhkan karena kondisi anak autis sangat kompleks. Penyandang autisme biasanya memiliki gangguan di empat aspek seperti keterlambatan bicara, emosi, sosial, dan perilaku. Ihwal yang harus ditata kali pertama adalah pola perilaku anak dan dilanjutkan dengan konsentrasi serta konsep bicara.

Bina Anggita memiliki tiga tipe kelas yakni reguler, fullday, dan sesi. SPP setiap bulan mulai dari Rp500.000 sampai dengan Rp1,7 juta tergantung tipe kelas yang diambil. Biaya masuk mulai dari Rp6 juta.

“Tetapi jumlahnya tidak bisa sama setiap anak karena, setiap kebutuhan tambahan anak akan dibebankan kepada orang tuanya. Biaya untuk anak autis memang cukup tinggi karena setiap anak autis selalu membutuhkan pendampingan meski pun mereka telah dilatih untuk bisa hidup mandiri.”

 
Pandangan Publik

Persoalan lain yang tak kalah pelik adalah persepsi keliru dari masyarakat. Khalayak masih menganggap autisme sebagai keanehan.

Pakar pendidikan anak autis dari UNY Sukinah mengatakan berbeda dengan era 1990-an, prevalensi anak autis saat ini terus meningkat. Sukinah yang juga pendiri Bina Anggita ini mencontohkan suatu hari membawa remaja autis ke tempat publik. “Anaknya sudah besar, lalu kami ajari untuk memunguti sampah. Ternyata, orang-orang sekitar ada yang melihatnya sebagai keanehan. Kami kemudian membagikan selebaran ciri-ciri autisme, ada juga yang baru kami mau bagi brosur tetapi sudah bilang, ‘ah maaf [enggak mau menerima]’,” kata dia, Kamis (29/3/2018).

Dosen pendidikan luar biasa ini mengatakan orang tua memiliki peran besar dalam mendidik anak autis untuk dimasukkan ke sebuah lembaga pendidikan. Namun, orang tua belum sepenuhnya menyiapkan segala keperluan anak autis saat masuk ke lembaga pendidikan. “Mereka kadang tidak sadar melupakan tiga gangguan perkembangan pada anak autis, seperti komunikasi dan bahasa, interaksi sosial, serta perilaku aneh seperti hiperaktif.”

Sebagian besar sekolah juga belum siap melayani anak autis. Tak sedikit sekolah yang hanya menerima secara simbolis demi status penyelenggaraan pendidikan inklusi. Sekolah-sekolah inklusi juga tidak melakukan penilaian (assessment) sebelum menerima siswa penyandang autisme. “Sebagian besar masih asal menerima,” kata dia.

Padahal anak autis membutuhkan tidak hanya aspek akademik, tetapi juga nonakademik, yakni membuat anak autis berperilaku seperti anak yang lain. Perilaku yang wajar sangat penting bagi anak autis agar mereka bisa bertahan hidup. Ia memiliki anak asuh autis yang sedang mengerjakan skripsi di Universitas Brawijaya dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan mereka kesulitan mengkomunikasikan ide skripsi. Bahkan ada anak autis yang dia dampingi lulus dari UGM dengan predikat Cum Laude.

Persoalannya belum ada perusahaan yang mau menerimanya. “Secara teori dia lulus, giliran wawancara dia kalah,” kata Sukinah.