Asal Usul Nama RI 1 dan RI 2, Anak Kembar asal Jogja

Raden Nakula Republik Indonesia 1 Sakti Aji (kiri) dan Raden Sadewa Republik Indonesia 2 Sakti Aji (kanan) berfoto menunjukkan akta kelahirannya, Jumat (6/7/2018). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
06 Juli 2018 21:50 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Suryani, 44 merasakan perutnya semakin berat di usia kandungan delapan bulan. Bidan meraba-raba perutnya, kata sang bidan, bayi di dalam kandungannya kemungkinan kembar.

Suryani pun menuju rumah sakit diantar suaminya, Aji Danang Wisnugroho, 47 untuk melakukan USG, terlihat di hasil USG, dua anak kembar nonidentik yang kini diberi nama RI 1 dan RI 2 ternyata dalam posisi melintang dengan kepala berdempetan.

"Di dalam rahim saya, kepala mereka tempel-tempelan, posisi mereka melintang, akhirnya mau tidak mau harus melahirkan dengan proses sesar pada 1 Oktober 2000," kata Suryani saat ditemui Harianjogja.com, Jumat (6/7/2018).

Suryani mengaku tak memiliki gen kembar dalam keluarganya. Begitu pula Aji. Keluarga besar termasuk kakak dari si kembar, Sekar Ayu Kharisma Aji, 21, menyambut kehadiran si kembar. Sang ayah yang sejak muda terkenal nyentrik, dibantu sang kakek yang sangat antusias memperingati hari lahir Pancasila, memutuskan untuk menamai kedua anak itu Raden Nakula Republik Indonesia 1 Sakti Aji dan Raden Sadewa Republik Indonesia 2 Sakti Aji.

"Tidak ada inspirasi apa-apa saat beri nama. Tapi saya kan sejak muda terkenal nyleneh. Saya suka buat tas dari baju, melukis biola, ya saya ingin memberi nama kedua anak saya dengan nama yang unik. Ada radennya karena mereka masih ada trah Hamengkubuwana I," kata sang ayah, Aji, yang ketika disambangi tengah menonton televisi.

Aji mengaku dirinya kerap membayangkan jika kedua anaknya menjadi Ketua RT. Aji memaparkan khayalannya itu, ketika membuka acara kampung, pasti warga akan kaget ketika nama anaknya disebut. "Pasti nanti dikira presiden yang datang. Kalau besok ada temannya menikah, pasti dikira sanak keluarga temannya ngundang presiden," kata Aji sambil terkekeh.

Suryani membenarkan hal tersebut. Namun terkandung harapan dalam nama tersebut. Suryani dan Aji berharap kelak anaknya menjadi presiden atau wakil presiden. Ternyata, kedua anak mereka pun memiliki cita-cita tersebut.

"Saya ingin jadi wakil presiden, kalau enggak bisa, saya ingin jadi orang seperi BJ Habibie yang cerdas bisa bikin pesawat," ujar RI 2 yang sebentar lagi akan menjadi siswa SMK Penerbangan.

"Saya ingin jadi presiden, kalau tidak bisa ingin jadi programmer," kata RI 1 sambil tersipu.

Suryani kemudian mengatakan bahwa kedua anak kembarnya sempat terkena penyakit pada 2006. RI 1 menderita flek, sedangkan RI 2 menderita leukimia. Akhirnya Aji dan Suryani yang kini tinggal di Jalan Ireda nomor 90, Keparakan Kidul, Mergangsan ini memanggil 'orang pintar' untuk memberi mereka saran.

"Disuruh ganti nama. Dulu kan nama wayangnya di belakang, jadi kami pindah ke depan. Eh langsung sembuh dua-duanya setelah ganti nama," kata Aji.

Suryani menambahkan, saat penggantian nama membutuhkan waktu satu minggu. Petugas ketik akta pun menolak mengganti nama halaman depan, akibatnya nama si kembar direvisi di balik akta.

"Teman-teman mereka sering mengeja nama mereka dengan Er-i, Eri, atau kadang manggilnya Ri saja," kata Suryani.

RI 2 kemudian bercerita tentang pengalamannya membuat kartu ATM baru-baru ini. "Saya sempat kesulitan. Kan dalam nama tidak boleh ada angka. Akhirnya semua petugas ATM maju ke meja, diskusi, akhirnya angka 2 itu diganti huruf, jadi d-u-a," kata RI 2.

RI 1 mengatakan karena nama mereka unik, mereka jadi terkenal di kalangan teman-teman sekolah mereka. Bahkan guru-guru selalu mengingat mereka, terutama saat memanggil nama mereka di daftar absen.