12 Tahun Gus Miftah Siram Rohani di Kelab Malam, 14 Tahun di Sarkem

Pengajian oleh Gus Miftah di Boshe VVIP Club Jogja, Kamis (13/9), bakda Magrib. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
15 September 2018 09:25 WIB Budi Cahyana Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Gus Miftah akhir-akhir ini tenar karena video saat ia berdakwah di sebuah kelab malam di Bali viral. Jauh sebelum namanya jadi perbincangan di dunia daring, ia sudah lama mengisi pengajian di kelab malam di Sleman dan lokalisasi di Jogja. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Fahmi Ahmad Burhan.

Musik yang biasanya menghentak tak terdengar di Boshe VVIP Club, Kamis (13/9) petang. Wanita-wanita berjilbab dan pria-pria berpeci duduk di kursi yang mengelilingi meja bundar, kursi yang sering dipakai orang-orang untuk melepas penat.

Di panggung, Gus Miftah menggenggam mikrofon. Dia membuka taklimat.

“Marilah kita mulai pengajian kali ini dengan membaca Al-Fatihah bersama-sama,” ucap Gus Miftah.

Dia melanjutkannya dengan guyonan-guyonan ringan.

“Sebelum saya ke Boshe, istri saya nanya, Boshe itu apa, lalu saya jawab, Boshe itu puskesmas, kok puskesmas? Ya kan pusat kesenangan mas-mas,” lawakannya disambut tawa.

Gus Miftah kemudian berkhotbah sekitar satu jam, tentang pentingnya mempertahankan iman karena hanya orang beriman yang masuk surga.

“Cukup bodimu yang bermaksiat, tetapi hatimu jangan. Seburuk apa pun kita di depan manusia, minimal kita diakui sebagai umat-Nya.”

Pengajian ditutup dengan selawat yang didengungkan semua hadirin. Sudah 12 tahun dia berdakwah di kelab malam ini, satu bulan dua kali bakda Magrib.

“Ada orang yang bilang, memalukan, kok malah berdakwah di kelab malam, lah yang lebih memalukan itu mereka yang melihat maksiat tetapi tidak memberikan solusi,” kata Gus Miftah dalam wawancara seusai pengajian.

Pria berambut gondrong ini mulai berceramah di Boshe setelah pengelola kelab tersebut memintanya.

“Dulu banyak LC [lady companion] SMS saya, pengin ngaji tapi enggak tahu di mana. Mereka tidak punya kesempatan, akhirnya saya.”

Dia tak hanya memberikan ceramah di Boshe, tetapi juga di Pasar Kembang alias Sarkem, kawasan kupu-kupu malam legendaris di Jogja.

“Di Sarkem saya sudah 14 tahun.”

Petuah-petuah yang disampaikan Gus Miftah cocok dengan pekerja Boshe. Gaby yang sejak dua tahun lalu mencari nafkah di kelab malam tersebut kerap ikut pengajian Gus Miftah dan merasa tenteram karena pendakwah itu tak pernah menghakimi maupun memojokkan siapa saja yang bekerja di gemerlap lampu disko.

“Kami pengin dapat pencerahan. Pengajian seperti ini perlu buat saya,”  dia.

HRD Corporate Boshe VVIV Club Jogja Titi Sugiarti mengatakan pengajian rutin Gus Miftah adalah permintaan pemilik kelab.

“Walaupun kerja di dunia seperti ini tapi jangan sampai melupakan Tuhan,” kata dia.

Pengajian berlangsung di lantai kedua, sebelum kelab malam itu buka.

“Kebetulan anak-anak cocok semua, materinya sederhana dan gampang diterima, dia itu ustaz gaul,” kata Titi.

Pria bernama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman ini mempunyai pondok pesantren di Dusun Tundan, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman. Nama pondok pesantren itu Pondok Pesantren Ora Aji. Ora Aji adalah frasa dalam bahasa Jawab yang artinya tidak berharga. Gus Miftah mengambil nama itu karena menurut dia tidak ada satu pun yang berharga di mata Tuhan selain ketakwaan.

Pesantrennya mengasuh 70 santri dengan berbagai latar belakang mulai dari mantan napi, bekas pekerja seks, dan eks pegawai hiburan malam.