Ratusan Difabel Menginap di Rumah Warga Desa di Gunungkidul

Sejumlah difabel menggelar aksi di halaman DPRD Kota Jogja, Kamis (6/9/2018). - Eka Ariyanti
23 Oktober 2018 23:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harinjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sedikitnya 400 anggota difabel mengikuti kegiatan temu inklusi 2018 di Desa Plembutan, Playen yang dimulai sejak Senin (22/10/2018) hingga Kamis (25/10/2018) mendatang. Kegiatan yang digelar selain workshop dan bazar, para anggota juga berbaur dengan menginap di rumah-rumah warga.

Bupati Gunungkidul Badingah menyambut baik penyelenggaraan temu inklusi di Desa Plembutan. Menurut dia, kegiatan ini memiliki banyak manfaat, salah satunya untuk mendapatkan kebijakan yang mendukung Kabupaten Gunungkidul sebagai daerah yang ramah difabel.

“Kami dukung karena kegiatan ini sangat positif dan memberikan berbagai pengalaman bagi para peserta,” kata Badingah kepada wartawan, Selasa (23/10/2018).

Dia menjelaskan, untuk mendukung kelompok difabel, pemkab sudah menerbitkan beberapa produk hukum. Sebagai contoh, sambung Badingah, pihaknya telah mengeluarkan Peraturan Bupati No.9/2016 tentang Pendidikan Inklusi. “Kami siap mendukung program menuju Indonesia Inklusif 2030,” katanya.

Disinggung mengenai jumlah difabel di Gunungkidul, Badingan menuturkan ada sekitar 7.000 anggota yang tersebar di 18 kecamatan. “Meski mereka memiliki kebutuhan khusus, kami akan memberikan fasilitas karena anggota difabel berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama,” ungkapnya.

Direktur Sigab, Suharto menuturkan, kegiatan temu inklusi digelar memiliki tujuan besar, yakni menuju Indonesia Inklusif 2030. Rencananya setida dua tahun sekali akan digelar temu inklusi. “Kita targetkan 400 anggota yang ikut [temu inklusi di Desa Plembutan] bisa berbaur dengan masyarakat dengan cara menginap di rumah warga sekitar,” katanya.

Dia menjelaskan, kegiatan penyandang disabilitas menginap di rumah-rumah warga bertujuan untuk mengajarkan warga mengenai toleransi, menghormati, dan merayakan perbedaan serta keberagaman.

“Selama kegiatan juga akan dilakukan workshop untuk menampung inisiatif lokal dalam menciptakan ruang dan akses untuk difabel. Hasil dari pertemuan akan dibawa ke pemerintah pusat untuk menjadi solusi dan kebijakan nasional,” katanya.

Menurut dia, kegiatan temu inklusi di Plembutan bukan yang pertama kali. Sebab, dua kegiatan yang sama telah diselenggarakan sejak 2014 lalu. “Ini yang ketiga kalinya. Dalam kegiatan ini juga akan mempertemukan para pegiat inklusi, baik individu atau organisasi, pemerintah untuk berbagi inovasi dan praktik untuk mewukudkan gerakan Menuju Indonesia Inklusif 2030,” imbuh Suharto.