Kenang Nyi Tjondrolukito, TBY Gelar Pertunjukan

Ilustrasi sinden. - Harian Jogja
29 Oktober 2018 21:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar pertunjukan sinden di Concert Hall, Minggu (28/10) malam. Kegiatan bertajuk Gelar Karya Maestro, Napak Tilas Nyi Tjondrolukito Maestro Sinden Tak Biasa itu digelar untuk meneladani kelebihan sosok pesinden Nyi Tjondrolukito.

Dalam kesempatan itu Bremana Laras dan Omah Cangkem dipercaya untuk tampil membawakan beberapa reportoar. Salah satu panitia pementasan Agung Plenthung mengatakan pergelaran itu sekaligus untuk meneladani sang maestro sinden Nyi Tjondrolukito.

Nyi Tjondrolukito adalah legenda pesinden yang sampai sekarang masih terus dikenang. Seniwati itu lahir di Sleman pada tahun 1921 dan meninggal di Jakarta tahun 1997.

Suaranya yang khas, harum, dengan kekayaan wangsalan (tembang dalam karawitan), membuat sosoknya begitu terkenal, bahkan sejak zaman Hindia Belanda.

Nyi Tjondrolukito adalah isteri dari Ki Tjondrolukito, seorang abdi dalem Keraton Jogja yang tak hanya mengajar nada-nada kepada isterinya tetapi juga membaca dan menulis karena Nyi Tjondrolukito sendiri tak pernah sekolah.

Tebaran karya Nyi Tjondrolukito dengan uyon-uyon khas Mataraman didukung sejak bergabung dalam Karawitan RRI Jakarta dan rekaman di banyak perusahaan rekaman. Beberapa karyanya yang adalah gending Kutut Manggung dan Jineman Uler Kambang yang sampai sekarang masih jadi tembang utama yang dibawakan setiap pesinden, terutama dalam pergelaran wayang kulit.

Nyi Tjondrolukito dihormati oleh Presiden Soekarno dan disayangi oleh Presiden Soeharto. Bukan hanya kemerduan suara tetapi dedikasinya kepada seni karawitan. Pernah di masa Presiden Soekarno, Nyi Tjondrolukito diminta pentas di Istana Negara. Begitu melihat tata panggung yang menempatkan tempat duduk pesinden lebih rendah dari penonton, dia pun marah dan menegur pegawai istana.

Menurut Agung, banyak yang bisa dipelajari dari sosok beliau yang selalu berusaha menempatkan musik tradisional sebagai tontonan utama. Bahkan dalam cerita, Nyi Tjondrolukito pernah menolak perintah Presiden Bung Karno karena karawitan dan pesinden tidak diberikan panggung justru musik modern yang diberikan tempat di atas panggung. "Beliau adalah sosok yang luar biasa, istilahnya berani membuat perubahan yang menurut dia benar, sinden harus seperti ini, punya khas tersendiri," katanya, Minggu (28/10) malam.

Agung mencontohkan dalam lagu Kutut Manggung, Nyi Tjondrolukito berusaha membuat cengkok yang berbeda dengan tidak mengikuti gaya sinden pada umumnya. Dalam penentuan pementasan tersebut melalui proses kuratorial. Terutama dengan memilih pementas yang mampu memahami gaya maestro sinden tersebut. Ia menyadari tidak ada orang yang bisa menggantikan seperti beliau.

"Prosesnya cukup lama karena tidak semua grup atau komunitas mampu menghayati tokoh seperti Bu Tjondro," katanya.

Agung mengatakan di era milenial ini harus disikapi bahwa sinden sama dengan musik pada umumnya bahkan derajatnya lebih tinggi karena menjadi tradisi budaya lokal. Ia sepakat sinden harus mendapatkan tempat lebih tinggi dan diberikan ruang lebih banyak.

Terlebih saat ini jarang ada ruang bagi pesinden selain di lembaga pendidikan atau tempat hajatan sehingga banyak masyarakat kurang memahami pesinden. "Ruang untuk sinden berekspresi harus disediakan lebih banyak lagi, sebenarnya semua tempat bisa tinggal penyelenggara mau atau tidak menyelenggarakan uyon-uyon itu," kata dia.

Selain itu pagelaran sinden karawitan harus diperbanyak terutama daerah pelosok. Karena saat ini sinden karawitan ini justru lebih banyak dipelajari kalangan dari luar negeri dan luar Jawa.