Wabup Gunungkidul Ingin Pemuda Ikut Kembangkan Sektor Pertanian

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi - Twitter/Ireyogya
30 Oktober 2018 16:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Peringatan Hari Sumpah pemuda dijadikan momentuk bagi generasi muda untuk lebih peduli di sektor pertanian. Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi usai mengikuti upacara peringatan Sumpah Pemuda di Alun-Alun Wonosari, Senin (29/10/2018).

Menurut dia, partisipasi pemuda di bidang pembangunan sudah banyak, di antaranya bidang kepariwisataan atau kebudayaan. Namun, untuk sektor pertanian masih minim. Hal ini dibuktikan para petani yang didominasi orang tua.

“Kami berikan apresiasi para pemuda yang ikut mengembangkan kepariwisataan hingga budaya, tapi yang tak kalah penting sektor pertanian harus ikut diperhatikan,” kata Immawan kepada wartawan.

Dia menyakini, partisipasi pemuda di sektor pertanian akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan di bidang agraris ini. Selain sebagai proses regenerasi petani, campur tangan pemuda diharapkan membawa sentuhan moderenitas sehingga memberikan dampak baik terhadap sentra produksi pertanian.

“Kita berharap para pemuda mau ikut dalam perkembangan pertanian. Sebab dari sisi potensi masih sangat menjanjikan dan sangat prospek baik dari sisi ekonomi dan sosial,” tutur dia.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto tidak menampik jika kondisi petani didominasi oleh orang tua. Untuk menggerakan para pemuda untuk ikut terjun di dunia pertanian, dua mengaku sudah menyiapkan beberapa program. Salah satunya dengan meminta petugas penyuluh tani yang tersebar di desa-desa untuk membina tiga hingga empat pemuda tani.

“Kita akan terus melakukan sosialisasi karena peran pemuda sangat penting agar sektor pertanian tetap bisa berkembang,” katanya.

Selain itu, sambung Bambang, untuk kembangan juga menggerakan pemuda tani. Di dalam program ini, para pemuda diberikan bantuan khusus untuk pengembangan pertanian hortikultura.

“Sudah mulai dirintis seperti di Desa Kelor dan Bleberan,” katan mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkembunan ini