Advertisement
Diskominfo Latih Kelompok Masyarakat Gunungkidul Jadi Jurnalis Warga
Reporter Harian Jogja, Sirojul Khafid saat memberikan pelatihan jurnalistik kepada anggota KIM di Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo, Kamis (12/2/2026). - Harian Jogja - David Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Penguatan citizen journalism di Gunungkidul kembali digencarkan melalui pelatihan jurnalistik bagi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) yang digelar PT Akasara Dinamika Jogja bersama Dinas Komunikasi dan Informatika Gunungkidul di Bangsal Sewokoprojo pada Kamis (12/2/2026).
Program ini menjadi bagian dari strategi pengembangan kapasitas KIM yang telah dibentuk di seluruh padukuhan sejak 2024, guna memperluas penyebaran informasi yang akurat sekaligus menangkal berita bohong di tingkat kalurahan dan padukuhan.
Advertisement
Kepala Diskominfo Gunungkidul, Setiyo Hartato, mengatakan pembentukan KIM di seluruh padukuhan sudah diinisiasi sejak tahun lalu sebagai fondasi penguatan citizen journalism berbasis masyarakat.
“Pelatihan ini menjadi upaya untuk memberikan pemahaman tentang materi jurnalistik ke anggota KIM,” kata Setiyo, Kamis siang.
BACA JUGA
Peserta pelatihan tidak berasal dari seluruh padukuhan, melainkan perwakilan KIM di tingkat kalurahan. Skema ini dirancang agar peserta dapat menularkan materi pelatihan kepada anggota KIM di padukuhan masing-masing.
“Harapannya dengan hasil pelatihan ini nantinya bisa diajarkan ke anggota KIM di padukuhan yang ada di lingkup kalurahan tempat tinggal para peserta,” katanya.
Menurut Setiyo, pelatihan jurnalistik ini juga menjadi bagian dari agenda jangka panjang untuk membentuk Bregodo Wiro Pawarto, yang disesuaikan dengan keistimewaan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
“Ini masih kami matangkan terkait dengan konsep Bregodo Wiro Pawarto, yang nantinya berisi tentang anggota KIM yang ada di Gunungkidul,” katanya.
Reporter Harian Jogja, Sirojul Khafid, yang menjadi pemateri, menyampaikan materi pelatihan mencakup teknik penulisan berita hingga pengelolaan akun media sosial.
“Secara garis besar tidak jauh berbeda dengan Teknik pemberitaan yang dilakukan oleh para wartawan,” katanya.
Selain pemaparan teori jurnalistik, peserta juga mengikuti praktik lapangan. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok untuk menjalankan simulasi peliputan, mulai dari wawancara hingga menyusun berita secara utuh.
“Untuk narasumber kami juga menggandeng tim dari kominfo agar diwawancarai guna ditulis menjadi berita,” katanya.
Pelatihan citizen journalism ini juga mencakup pengelolaan konten media sosial, termasuk teknik pengambilan video saat proses wawancara untuk mendukung penyajian berita yang lebih menarik dan informatif.
“Didalam praktik juga ada pelatihan mengambil video saat proses wawancara untuk membuat berita,” katanya.
Melalui pelatihan jurnalistik ini, Diskominfo Gunungkidul berharap KIM mampu menjadi motor citizen journalism di tingkat lokal, memperkuat literasi informasi, serta mengisi berbagai kanal komunikasi resmi dengan konten yang akurat dan bertanggung jawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








