Pemkab Kulonprogo Siap Remajakan Kopi Menoreh

Sejumlah peserta antusias mengikuti lomba menyeduh kopi dalam acara Pesta Kopi Kulonprogo yang diselenggarakan di lapangan basket kompleks Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Wates, Pengasih, Minggu (11/11/2018)./Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
06 Desember 2018 22:15 WIB Uli Febriarni Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo mengupayakan bantuan rehabilitasi dan peremajaan tanaman kopi yang dibudidayakan di kawasan Menoreh, khususnya di Kecamatan Samigaluh dan Girimulyo.

Kepala Bidang Perkebunan DPP Kulonprogo, Widi Astuti, menjelaskan rehabilitasi dan peremajaan tanaman dibutuhkan untuk meningkatkan produksi kopi. Tahun ini melalui Program Aspirasi, Pemkab mendapat bantuan 5.000 batang tanaman kopi yang akan dibagikan kepada petani di Dusun Trayu, Desa Ngargosari, Kecamatan Samigaluh. Tanaman ini bisa langsung ditanam pada musim penghujan sehingga mendapatkan cukup air.

"Kami mengusulkan petani kopi di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Girimulyo, juga mendapat bantuan serupa. Dari informasi yang kami terima, bantuan bibit kopi bakal turun pada Desember ini, tapi sampai sekarang belum ada perkembangan informasi kepastiannya," kata dia, Rabu (5/12/2018).

Ia menambahkan ada program pengembangan yang menyasar petani kopi. Program ini bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) sebagai bentuk pengembangan ekonomi lokal di Perbukitan Menoreh. Para petani kopi bakal difasilitasi selama tiga tahun mulai 2018 sampai 2020. Dalam pelaksanaannya di sentra kopi Marwiyah, misalnya, Pemkab akan memfasilitasi demplot kopi, jaringan irigasi, dan pelatihan budi daya. Untuk pengolahannya, Bank Indonesia memberikan alat-alat pengolahan kopi.

Selain BI, DPP juga menjalin kerja sama dengan lintas organisasi perangkat daerah (OPD), salah satunya Dinas Pariwisata (Dispar). Keduanya akan mengembangkan agrowisata kopi di kawasan Puncak Suroloyo. Rencana detail teknis disusun Dispar tahun ini.

"Di sana [kawasan Suroloyo] ada lahan 1.500 meter yang bakal menjadi pusat pengolahan kopi yang dipadukan dengan wisata. Wisatawan tidak hanya bisa menikmati kopi khas Kulonprogo, tetapi juga bisa menikmati objek wisata Watu Tekek, Watu Jonggol, kebun teh, kemudian ada kuliner kopi," katanya.

Seorang petani kopi dari Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Windarno, menyebutkan selain peremajaan dia mencoba membudidayakan tanaman kopi dengan cara membudidayakan biji kopi arabika yang memiliki rasa vanila. Biji kopi tersebut memiliki rasa vanila, karena dalam penyerbukannya bunga tanaman kopi menyatu dengan penyerbukan tanaman vanili. Budidaya dilakukan dengan cara melilitkan tanaman vanili dengan pohon kopi sehingga penyerbukan berlangsung secara alami. "Pengembangan kopi vanila di Kulonprogo dapat mengatasi masalah terbatasnya lahan tanam kopi di Perbukitan Menoreh," ujarnya.