Pilihan Lurah Gunungkidul, 11 Petahana Tersungkur
Pilur serentak Gunungkidul diikuti 91 calon dari 31 kalurahan. Sebanyak 11 lurah petahana gagal mempertahankan jabatannya.
Sarjono, seorang petani di Dusun Ngrahu, Desa Sumberejo, Semin memotong tanaman padi yang mengering untuk dijadikan pakan ternak. Senin (1/7/2019)/Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Sejumlah petani di Dusun Ngrahu, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin, memanfaatkan tanaman padi yang mengering untuk pakan ternak. Di masa tanam kedua ini, padi gagal panen alias puso karena minimnya pasokan air untuk pemeliharaan.
Salah seorang petani, Sarjono, mengaku mengalami kerugian akibat kegagalan panen. Meski tidak menyebut nominal namun ia mengatakan dua petak sawah miliknya mengering karena tidak ada pasokan air untuk pemeliharaan tanaman padi. “Jelas rugi karena padi digadang-gadang bisa tumbuh subur. Tapi faktanya malah mati karena kehabisan air,” kata Sarjono kepada Harian Jogja, Senin (1/7/2019).
Menurut dia, petani tidak menyangka padi yang ditanam akan mati. Pasalnya, saat mulai menanam untuk periode kedua, hujan masih turun sehingga petani berani melakukan penanaman. “Setelah masa tanam selesai dan mulai pemeliharaan ternyata hujan tidak turun hingga sekarang. Akibatnya padi ikut mengering dan tidak ada isinya,” katanya mengeluh.
Sarjono menambahkan, meski telah mati namun petani tetap memanen tanaman padi. Namun pemanen bukan untuk mengambil bulir padi, tapi memanfaatkan batangnya sebagai pakan ternak. “Kami sudah merugi, tapi eman-eman [sayang] karena batangnya bisa digunakan untuk pakan ternak. Jadi saya tetap memotong batang padi yang mati itu,” kata dia lagi.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Yanto, petani lain di Desa Sumberejo. Menurut dia, di wilayahnya masih ada petani yang panen. Hal ini tidak lepas dari adanya sebuah embung untuk mengairi lahan pertanian. Meski demikian air yang dimanfaatkan tidak bisa menjangkau seluruh area pertanian karena hanya digunakan petani di sekitar embung. “Yang lokasinya jauh tidak bisa dapat air sehingga tanaman padi banyak yang mati,” katanya.
Yanto mengatakan embung yang ada saat ini sudah tidak bisa dimanfaatkan karena airnya telah mengering. “Untuk penanaman lagi kami menunggu datangnya musim hujan,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, mengatakan datangnya musim kemarau mengakibatkan ribuan hektare tanaman padi di Gunungkidul mengalami puso. Total cakupan kekeringan menyasar sepuluh kecamatan mulai dari Gedangsari, Semin, Ngawen, Ponjong, Nglipar, Wonosari, Karangmojo. Sedang tiga kecamatan lainnya Girisubo, Patuk dan Playen. “Makin meluas karena awalnya hanya 400 hektare dan sekarang lebih dari 1.900 hektare yang puso,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak Gunungkidul diikuti 91 calon dari 31 kalurahan. Sebanyak 11 lurah petahana gagal mempertahankan jabatannya.
Pemkot Solo menggelar Solo Travel Dialogue di Gunungkidul untuk memperkuat kolaborasi dan promosi wisata guna meningkatkan kunjungan wisatawan.
PISA 2025 menempatkan Singapura dengan skor membaca tertinggi 535. Indonesia naik 6 poin menjadi 365. Berikut daftar lengkapnya.
Arif Aiman disorot akun Malaysia setelah Indonesia ditahan 0-0. Winger JDT itu disebut lebih hebat dari pemain Timnas Indonesia.
Harga emas Pegadaian 29 September 2026 untuk Antam, Galeri24, dan UBS lengkap dengan harga jual serta buyback berbagai ukuran.
FIFA membahas kemungkinan dana tambahan untuk 211 asosiasi anggota. UEFA dan Concacaf mengusulkan minimal US$10 juta per anggota.