Daerah Krisis Air di Gunungkidul Berkurang, Penyaluran Air Bersih Masih Jadi Andalan

Ilustrasi kekeringan - Reuters/Jose Cabezas
30 Juni 2019 15:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Bupati Gunungkidul Badingah mengklaim daerah krisis air di Gunungkidul terus berkurang. Saat ini sudah 83% masyarakat di Bumi Handayani sudah terlayani air bersih.

Menurut dia, fasilitas air bersih ini tersedia melalui jaringan pipa PDAM maupun program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) melalui Sistem Penyediaan Air Minum Pedesaan (Spamdes) atau Sistem Penyediaan Air Minum Dusun (Spamdus). Badingah mengakui akan terus mempertahankan penyaluran air bersih untuk daerah yang masih mengalami krisis air.

Menurut dia, program itu sangat penting untuk menjangkau daerah-daerah yang berada di wilayah perbukitan, khususnya yang tidak memiliki sumber air maupun instalasi PDAM. “Wilayah tinggi dan kekurangan air hanya bisa dijangkau melalui dropping. Jadi, dropping akan terus dilakukan sehingga masyarakat bisa mendapatkan air bersih, khusunya di musim kemarau,” kata Badingah, kemarin.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan tahun ini Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengalokasikan anggaran penyaluran air bersih sebanyak Rp530 juta. Jumlah itu tidak sebanyak alokasi di 2018 yang mencapai sekitar Rp600 juta. “Anggaran yang ada akan kami maksimalkan dan jika kurang bisa mengajukan pada saat pembahasan APBD Perubahan,” katanya.

Menurut dia, pemerintah kecamatan dan pihak swasta juga ikut dalam memberikan bantuan penyaluran air bersih. “Dengan kecamatan kami sudah lakukan koordinasi. Sedangkan untuk pihak swasta, kami berharap tidak jalan sendiri dan ada koordinasi sehingga bantuan bisa tepat sasaran,” kata Edy.

Direktur Umum PDAM Tirta Handayani, Isnawan Fibriyanto mengatakan, untuk meningkatkan kualitas layanan, perusahaan daerah itu sudah menyiapkan program terbaru. Selain memaksimalkan keberadaan instalasi pengolahan air Baron, PDAM juga akan membangun instalasi di Semin dan Purwosari dengan anggaran sekitar Rp40 miliar. Sementara itu, untuk instalasi Semin dan Purwosari masih dalam penyusunan detail engineering design oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul. “Sudah kami siapkan. Untuk instalasi Semin akan menopang kebutuhan di sisi utara, sedangkan instalasi Purwosari akan mengover kebutuhan di wilayah JJLS dan sekitarnya,” katanya.