Bukan Mahasiswa UNY, Ini Penjelasan RSUP Dr Sardjito tentang Warga Jepang yang Dirawat di Ruang Isolasi
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
Ilustrasi saluran irigasi. /Solopos/Burhan Aris Nugraha
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Manunggal Dusun Wediutah, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, mampu menaikkan air dari Sungai Greneng untuk pasokan air irigasi persawahan. Dampaknya, kini petani tidak lagi butuh jeriken untuk mengambil air untuk menyirami tanaman.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, menjelaskan sistem irigasi denmgan sistem pompa di Dusun Wediutah merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian (Kementan) yang dikerjakan secara swakelola oleh kelompok tani penerima bantuan. Dengan begitu petani semakin tekun bertani dan tidak khawatir lagi soal kekeringan. "Petani mengandalkan irigasi dengan sitem pompa sehingga hasil panen juga meningkat," ucap dia, Selasa (13/8/2019).
Bambang Wisnu mengimbau agar petani membentuk Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) dalam pengelolaan air. Selain itu, DPP juga memberi bantuan pompa air untuk irigasi di Kelompok Tani Rukun Agawe Makmur, Desa Beji, Kecamatan Patuk. "Di Patuk air yang bersumber dari Kali Oya mampu mengairi lahan seluas 25 hektare," katanya.
Ketua Gapoktan Tani Manunggal, Dusun Wediutah, Desa Ngeposari, Sarwo Widodo, mengatakan sumber air Kali Greneng merupakan warisan nenek moyang yang airnya tak pernah surut meski saat puncak musim kemarau. Biasanya penduduk mengambil air dengan menyusuri lokasi yang dalam dengan memikul jeriken air untuk kemudian dibawa ke atas satu persatu. "Sekarang dengan adanya pompa tidak perlu bawa jeriken," ujarnya.
Menurut dia, di lahan seluas 20 hektare yang ada di Wediutah biasanya petani hanya bisa menanam padi pada musim tanam pertama, disusul palawija pada musim tanam kedua. Untuk selanjutnya lahan dibiarkan menganggur lantaran ketiadaan air. "Dengan adanya irigasi, musim kemarau seperti saat ini kami masih bisa menanam jagung di lahan seluas tiga hektare. Ke depan luasan lahan bisa bertambah menjadi 15 hektare dengan tanaman kacang, kedelai, dan sayur-sayuran," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
Banjir Semarang 2026 melanda Tugu dan Ngaliyan. 313 KK terdampak, satu lansia hilang, tanggul Sungai Plumbon jebol.
Lonjakan penumpang KA Daop 6 Yogyakarta naik hingga 91% saat libur panjang. KAI tambah 7 perjalanan kereta.
DPRD DIY soroti dokumen renovasi Mandala Krida yang belum lengkap. MC-0 dan DED 2026 terancam tertunda.
SPMB Sleman 2026 dibuka dengan jalur prestasi, domisili, afirmasi, dan mutasi. Ini syarat dan ketentuan lengkapnya.
Jadwal SIM Keliling Jogja Mei 2026 lengkap di Alun-Alun Kidul, Sasono Hinggil, dan MPP. Cek lokasi, jam, dan syarat perpanjangan SIM A dan C terbaru.