Skema Droping Air di Gunungkidul Berubah, Kapanewon Jadi Prioritas
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Warga melihat sumur bor yang mengeluarkan air secara alami di Dusun Widoro Lor, Bendung, Semin, Rabu (21/8/2019). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Sumur bor yang mengeluarkan air secara alami di Dusun Widoro Lor, Desa Bendung, Semin, Gunungkidul hingga saat ini belum berhenti mengalir. Diperkirakan sumber air itu dapat dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas sepuluh hektare.
Kepala Desa Bendung, Didik Rubiyanto, mengatakan air dari sumur bor milik Suyadi terus mengalir tanpa bantuan mesin. Fenomena ini sudah berlangsung hampir satu bulan, karena sejak ditemukan pertama kali pada 19 Agustus lalu hingga Sabtu (7/9/2019) masih terus mengalir. “Belum berhenti dan aliran itu sudah digunakan untuk memelihara tanaman, salah satunya rumput gajah yang tak jauh dari lokasi sumber,” kata Didik, Sabtu.
Menurut dia, pihak desa secara pasti belum memiliki rencana untuk pemanfaatan air tersebut. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, di desanya sudah memiliki instalasi pengolahan air yang didistribusikan ke masyarakat. “Untuk pemenuhan air bagi warga masih mencukupi karena sudah ada sumber yang dimanfaatkan untuk spamdes,” ungkapnya.
Meski demikian, Didik mengakui, keberadaan sumber ini dapat dimanfaatkan petanian di lahan sekitar lokasi. Guna pemanfaatan ini, pihak dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul sudah mengamati lokasi sumber air. “Kepala dinas yang datang secara langsung. Ya harapannya air tersebut tidak terbuang percuma dan salah satunya untuk menggarap lahan pada saat kemarau,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, membenarkan jika dirinya telah menyurvei lokasi sumber air yang mengalir sendiri di Bendung, Semin. Menurut dia, keberadaan sumber bisa dimanfaatkan untuk pertanian. “Dengan debit yang ada perkiraan kami bisa menjangkau area maksimal sepuluh hektare,” kata Bambang.
Meski demikian, untuk pemanfaatan harus menunggu lokasi sepi karena masih banyak warga yang berkunjung. “Nanti kalau sudah sepi di area sekitar bisa ditanam padi atau jagung,” katanya.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Drajad, Ruswandono, menambahkan pihaknya telah berkirim surat ke Badan Geologi meminta untuk meneliti air dari sumber tersebut. “Kami sudah kirim surat agar airnya diteliti. Untuk keamanan, warga yang ingin mengonsumsi diharapkan memasak airnya terlebih dahulu,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, pada Agustus lalu, warga Dusun Widoro Lor dihebohkan dengan air mengalir dari sumur bor secara alami. Fenomena ini bermula saat Suyadi akan membuat sumur di ladang. Baru setengah hari mengebor dan dengan kedalaman 60 meter ternyata di sumur tersebut keluar air dengan sendirinya tanpa bantuan mesin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul mengubah skema droping air bersih dengan memprioritaskan anggaran kapanewon menghadapi kemarau panjang 2026.
Pengurusan SKKH di Sleman masih sepi jelang Iduladha 2026. DP3 tingkatkan pengawasan karena ancaman PMK masih ada.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.