OPINI: Bayi yang Tidak Diinginkan: Ujian Etika dan Kemanusiaan Kita
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Ilustrasi saluran irigasi. /Solopos/Burhan Aris Nugraha
Harianjogja.com, SAMIGALUH - Kekeringan yang melanda Samigaluh, Kulonprogo, tidak hanya menyulitkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, namun juga membuat warga tidak bisa bercocok tanam.
Warga Besole, Purwoharjo, Samigaluh, Sutrisno, 55, menyebutkan kebutuhan air tidak hanya untuk makan dan minum, melainkan juga bertani. "Kalau untuk makan-minum kami di Purwoharjo masih bisa mencukupi, tapi nggak bisa bertani," kata dia.
Ia menuturkan selama ini dirinya bertanam padi menggunakan tadahan air hujan. Begitu memasuki musim kemarau, dirinya memilih untuk tidak menanam untuk meminimalisir kemungkinan gagal panen.
Ia berharap pemerintah mulai memberi perhatian untuk dapat membuat saluran irigasi di seluruh Samigaluh. "Purwoharjo yang kebagian irigasi dari Kalibawang kan cuma Dusun Kedungrong. Kami harap di sini [Dusun Besole] dibikin juga," ujar dia.
Harapan serupa diungkapkan oleh Boniyem, 70. Warga Dusun Banjarsari, Desa Banjarsari, Samigaluh ini juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk sawahnya jika kemarau datang. "Enggak bisa tani, garing banget," kata dia.
Meski begitu, baik Sutrisno maupun Boniyem bersyukur masih mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Boniyem memiliki sumur di depan rumahnya yang masih bisa ia gunakan untuk makan dan minum. "Kemarin sempat asat [surut], jadi nggak nyuci. Tapi kalau pas banyak air ya saya sering dimintai oleh tetangga," ujar dia.
Camat Samigaluh, Triyanto Raharjo mengakui memang sulit membuat saluran irigasi di Samigaluh. "Irigasi dari saluran Kalibawang itu kalau di Samigaluh cuma diperoleh oleh Dusun Kedungrong, Desa Purwoharjo. Di sini memang tidak irigasi teknis, tapi pakai tadah hujan," katanya ketika ditemui Harian Jogja pada Selasa (8/10/2019) di kantornya.
Ia menyebutkan, ada lima desa terdampak kekeringan, yaitu Banjarsari, Kebonharjo, Gerbosari, Pagerharjo, dan Sidoharjo. Adapun dua desa yang tidak terdampak kekeringan adalah Purwoharjo dan Ngargosari.
"Ada sekitar 32 pedukuhan di Samigaluh yang kekeringan," ujarnya.
Pihaknya mengucapkan terima kasih karena sampai saat ini banyak donasi air dari berbagai pihak. Namun, ia mengharapkan hal lain dari pemerintah kabupaten sebagai solusi jangka panjang.
"Yang susah saat ini adalah cari titik mata air yang bisa dibor oleh desa. Itu kami masih belum bisa, harus ada ahlinya," ujarnya.
Triyanto berharap ada bantuan alat geolistrik untuk dapat membantu warga menemukan sumber mata air lain.
Selain itu, Triyanto juga berencana untuk membangun embung di Gerbosari. Saat ini Samigaluh sudah memiliki embung di Sidoharjo. "Masih kita upayakan," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang bayi tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Ia tidak bersalah atas kondisi yang melatarbelakangi kehamilan.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.