KASUS PORNOGRAFI: Divonis 10 Bulan Penjara, Ini Respons Pihak Siskaeee
Hakim memvonis terdakwa kasus pornografi siskaeee lebih ringan dari tuntutan jaksa.
Pedagang sedang mengecerkan minyak goreng curah di Pasar legi Solo. /Solopos-Sunaryo Haryo Bayu
Harianjogja.com, SLEMAN-- Asosiasi Pengusaha Minuman dan Makanan (Aspika) Sleman menanggapi dengan santai terkait dengan wacana pelarangan minyak goreng curah yang diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan.
Ketua Aspika Sleman Mukhlis Hari Nugroho mengatakan larangan penggunaan minyak goreng curah justru diharapkan dapat meningkatkan mutu produk.
Kendati demikian, Mukhlis mendorong agar nantinya selisih harga minyak tidak terlampau tinggi. "Ketika dikemas, naiknya jangan selisih terlalu banyak, harganya tidak harus sama, namun setidaknya sebanding, karena kami juga memahami pasti ada biaya untuk kemasan dan pengolahan," ujar Mukhlis, Selasa (8/10/2019).
Adapun, dari segi kualitas dan kebersihan, ketika dikemas dalam ukuran 1 liter, 2 liter maupun 5 liter diharapkan minyak goreng nantinya akan lebih terjamin.
"Dengan demikian, pedagang juga lebih nyaman dalam menggunakannya. Berbeda dengan produk curah yang tidak mencantumkan nomer PIRT bahkan BPOM," paparnya.
Berdasarkan informasi yang diterima dari Ketua Aspika, pengusaha yang bergabung di dalam Aspika Sleman berjumlah kurang lebih 80 orang. "Sekitar separuhnya menggunakan minyak goreng untuk proses produksi," ujarnya.
Aspika, lanjut Mukhlis, tidak pernah memberi imbauan atau arahan kepada anggotanya untuk menggunakan minyak goreng jenis tertentu. Namun, ia mendorong untuk menggunakan produk minyak yang telah mengantongi legalitas dari Dinas Kesehatan atau BPOM.
Aspika juga sering mendapat pelatihan dari Dinkes kabupaten Sleman. Adapun, terkait wacana pelarangan minyak goreng curah, menurut Mukhlis, belum semua anggotanya tahu namun diharapkan bisa direspons dengan bijak.
"Untuk industri skala rumahan, penggunaan minyak goreng belum terlalu banyak, paling dua liter cukup. Harapannya dengan memakai minyak kemasan, tidak berimbas banyak terhadap omset. Kualitas makanan semakin baik tapi kenaikan harga juga jangan terlalu tinggi," tutupnya.
Salah satu pedagang angkringan di taman kuliner Denggung, Arniati, 54, asal Kebongagung Tridadi, Sleman, mengatakan jika ia lebih memilih minyak goreng kemasan karena gorengan buatannya lebih bagus hasilnya jika dibandingkan dengan menggoreng dengan minyak goreng curah. "Untuk wajan juga lebih bagus, gorengannya juga lebih bagus," ujarnya.
Kendati demikian, ia dulu pernah mencoba menggunakan minyak goreng curah untuk menggoreng dan hasilnya gorengan buatannya sangat berminyak. "Kalau saya enjoy pakai kemasan, dibawa tidak tumpah, walaupun selisihnya itu lebih mahal minyak goreng kemasan
Ia juga menanggapi pelarangan minyak goreng curah dengan santai. "Ditarik tidak masalah, karena tidak pakai, saya terus terang tidak pernah pakai minyak curah," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hakim memvonis terdakwa kasus pornografi siskaeee lebih ringan dari tuntutan jaksa.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.
IDAI mengingatkan bahaya heat stroke pada anak saat cuaca panas ekstrem akibat El Nino. Orang tua diminta atur aktivitas dan cairan.
Defisit APBN April 2026 turun ke Rp164,4 triliun, keseimbangan primer kembali surplus Rp28 triliun.