MTQ Nasional 2026 di Jateng Jadi Panggung UMKM 35 Provinsi
Sebanyak 35 provinsi diberi ruang untuk membawa dan menawarkan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masing-masing dalam pameran
Salah satu lokasi digelarnya Festival Budaya Kotagede./Media Digital
Harianjogjacom, JOGJA—Festival Budaya Kotagede dibuka dengan menampilkan karnaval bregada di Jalan Tegalgendu, Kecamatan Kotagede, Kota Jogja, Jumat (22/11/2019). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka mengedukasi masyarakat terkait dengan pentingnya warisan budaya dan cagar budaya.
Selain kirab bregada yang digelar saat pembukaan, Kamis (22/11), Festival Budaya Kotagede diisi sejumlah kegiatan antara lain, parade gamelan bertajuk Bende Mataram di Pendopo Kajengan, pameran bazaar potensi lima wilayah di Kawasan Watu Gilang dilanjutkan dengan pentas seni budaya pada Sabtu (23/11).
Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Aris Eko Nugroho menjelaskan festival tersebut merupakan ajang pengenalan dan edukasi tentang arti pentingnya warisan budaya dan cagar budaya yang harus dipelihara, dikembangkan serta dilestarikan. Hal itu sebagai implementasi niat bersama untuk mewariskan pengetahuan tentang warisan budaya dan cagar budaya.
Dengan begitu diharapkan terjadi kesinambungan dan transfer kepiawaian segala aspek tentang warisan budaya dan cagar budaya. “Kami berharap dengan pendekatan dan metode yang tepat, sekaligus menarik bagi masyarakat umum dan generasi muda, agar tetap mencintai, ikut memelihara dan melestarikan warisan budaya dan cagar budaya,” ucapnya Jumat (22/11).
Aris menyatakan Kotagede memiliki sejarah panjang yang sangat penting sebagai salah satu lokasi kerajaan yang bercorak Islam di Pulau Jawa. Kotagede merupakan pusat kerajaan Islam sebelum akhirnya dipindah ke Kerto Pleret, Kartasura hingga akhirnya melahirkan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kerajaan Mataram pada masanya telah menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura. Sebagai Ibu Kota Mataram Islam, tentu banyak ditemukan peninggalan kebudayaan yang bersifat tangible [kasat mata] maupun intangible [tak kasat mata] yang sampai saat ini terus diupayakan pelestariannya.
“Selain itu ada pula beberapa aset di Kotagede dan kami berharap bisa dimanfaat bersama-sama, kami juga melihat potensi di Kotagede sangat besar, sehingga kami berharap ada kesamaan langkah antara Pemda DIY, Pemkot Jogja dan tentu saja dengan masyarakat agar semua bisa menikmati masa kejayaan dari Kotagede pada masa lampau,” katanya.
Dia menjelaskan secara administratif, Kotagede memiliki lima kelurahan yaitu Prenggan, Purbayan, Rejowinangun, Singosaren dan Jagalan. Itulah sebabnya, dia berharap bisa mengenalkan sarana menggalakkan potensi budaya kepada masyarakat luas.
Lewat festival itu pula, dia juga berharap mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap warisan budaya dan cagar budaya yang ada di Kotagede serta nilai yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat luas.
“Kami menyambut baik dan apresiasi setinggi-tingginya dan juga ucapan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya kegiatan festival Budaya Kotagede dengan mengambil tema Kejayaan Mataram dalam Festival Budaya Kotagede kali ini,” paparnya.
Dia berharap kegiatan itu bisa menjadi momentum untuk menjadikan semangat yang kuat dalam melestarikan warisan budaya dan cagar budaya di masyarakat. Dengan Kotagede dan sekitarnya bisa berkembang dengan Pleret, sehingga ke depan bisa memberikan dampak terhadap pariwisata.
Festival tersebut diharapkan bisa menarik minat wisatawan untuk datang ke Kotagede. “Kebetulan di Kotagede ini ada rumah kalang yang sudah menjadi milik Dinas Kebudayaan DIY, ini akan menjadi living museum Kotagede, kami ingin segera terwujud sehingga besok sudah ada mini museum di rumah kalang ini,” ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 35 provinsi diberi ruang untuk membawa dan menawarkan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masing-masing dalam pameran
PGI mengecam kekerasan terhadap warga sipil di Papua dan mendesak penghentian kekerasan serta pembukaan ruang dialog kemanusiaan.
Jusuf Kalla menyoroti banyaknya sarjana menganggur. Setiap tahun 1 juta sarjana keluar, sementara lapangan kerja dinilai terbatas.
Empat wisatawan terseret ombak Pantai Jungwok Gunungkidul saat hendak berfoto. Seorang wisatawan asal Solo meninggal dunia.
Kemenhub mendirikan posko darurat di Pelabuhan Trisakti untuk menangani insiden Kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak di Masalembo.
DPRD DIY mendorong penanganan kekeringan melibatkan seluruh OPD, tidak hanya BPBD, dengan dukungan koordinasi dan anggaran memadai.