Gunungkidul Krisis Air Saat Kemarau, Sungai Bawah Tanah Jadi Solusi
DPRD Gunungkidul mendorong optimalisasi sungai bawah tanah sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih saat kemarau.
Ilustrasi nyamuk DBD/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Memasuki musim hujan, masyarakat diimbau mewaspadai penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD). Musim hujan menjadi salah satu masa berkembangbiak nyamuk aedes aegypti yang menjadi pemicu demam berdarah.
“Penyebaran nyamuk aedes aegypty harus diwaspadai karena saat hujan banyak tempat-tempat yang bisa digunakan untuk bertelur. Seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya, mulai Desember hingga April yang merupakan musim hujan selalu terjadi kenaikan kasus DBD,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty, saat ditemui wartawan, Jumat (13/12/2019).
Dia menjelaskan untuk penanganan kasus Dinkes bekerja sama dengan puskesmas dan rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya agar memberikan laporan secara berkala. Apabila ada kasus DBD, tindakan yang diambil tidak sembarangan, misalnya fogging harus dilakukan dengan benar. “Pelaksanaannya juga harus ada kajian, yakni harus dipastikan adanya kasus DBD. Jika tidak, maka upaya hanya sebatas pencegahan,” katanya.
Untuk pencegahan dapat dilakukan dengan beberapa cara. Selain upaya pemberantasan sarang nyamuk, juga dilakukan dengan gerakan 3M yakni mengubur benda-benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, menguras tempat penampungan air dan menutup tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. “Dengan gerakan ini tempat sarang nyamuk bisa dipersempit sehingga penyebaran bisa ditekan,” kata mantan Sekretaris Dinas Kesehatan ini.
Agar tidak mudah terserang penyakit masyarakat juga diminta untuk mengonsumsi makanan yang sehat. Selain itu, penerapan pola hidup bersih dan sehat juga dibutuhkan sehingga daya tahan tubuh bisa terus dijaga.
Hal senada diungkapkan oleh Direktur RSUD Wonosari, Heru Sulistyowati. Dia mengatakan penanganan kasus DBD di tahun ini mengalami peningkatan. Sebagai contoh, di 2018 kasus yang ditangani ada 124 kasus. Namun di tahun ini hingga pertengahan Desember sudah mencapai 363 kasus.
Menurut dia, penanganan pasien DBD di RSUD Wonosari berjalan dengan baik. Meski jumlah kasus meningkat hingga dua kali lipat, namun pada saat penanganan tidak ada yang meninggal dunia. “Untuk penanganan kami terus berkoordinasi dengan Dinkes Gunungkidul,” kata Heru.
Penyebaran DBD, menurut Heru, harus terus diwaspadai karena bisa berakibat fatal apabila terlambat dalam penanganan. “Yang paling penting adalah upaya pencegahan dengan memberantas sarang nyamuk. Salah satunya dengan gerakan 3M,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendorong optimalisasi sungai bawah tanah sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih saat kemarau.
Alfamidi kembali menyalurkan 1.500 telur untuk 50 balita di Margodadi, Sleman, sebagai bagian dari program CSR pencegahan stunting.
Pemerintah menargetkan kemiskinan nasional turun menjadi 6–6,5 persen pada 2027 dengan pertumbuhan ekonomi 6 persen.
Puan Maharani meminta polisi mengusut tuntas kericuhan demo 27 Agustus 2026 dan kematian warga di Pejompongan.
Pejabat Sleman yang gagal mencapai target kinerja bisa dikenai sanksi hingga demosi. Evaluasi mengacu pada Perbup Sleman No. 35/2026.
LBB 2026 Jogja diikuti 3.500 pelajar dari SD hingga SMA. Kegiatan ini menanamkan disiplin, keteraturan, dan cinta Tanah Air.