Teror Kobra di Gunungkidul Meluas, Induk Ular Belum Ditemukan

Ilustrasi - Reuters
13 Desember 2019 17:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Anak kobra tidak hanya meresahkan penduduk Dusun Kepek I, Kepek, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul. Warga di Dusun Tenggaran, Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo, juga menangkap dua anak kobra yang melata di sekitar permukiman.

Agus Wasono Raharjo, salah seorang warga Tenggaran mengatakan anak kobra pertama kali ditangkap pada Rabu (11/12/2019) malam.

Saat para pemuda yang ronda akan bermain karambol dan menggelar tikar, tiba-tiba di dalamnya muncul seekor anak kobra sebesar ibu jari. “Jelas warga kaget dan seketika langsung membunuh ular itu,” kata Agus, Jumat (13/12/2019).

Sehari kemudian, anak kobra yang lain melata di salah satu rumah warga dan berkelahi dengan kucing. “Ular tersebut langsung dibunuh warga,” katanya.

Menurut dia, munculnya anak kobra ini baru pertama kali. “Kami tetap beraktivitas seperti biasa. Tetapi, warga sekarang harus hati-hati dan waspada karena takut adanya kemunculan ular-ular lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, di Dusun Kepek I, Desa Kepek, Wonosari, penduduk setempat masih mencari induk ular kobra yang membiakkan puluhan anak kobra dalam beberapa bulan terakhir. Hingga Jumat siang, ular kobra yang tertangkap sebanyak 21 ekor. “Warga masih waswas dan upaya pencarian masih terus berlanjut,” kata Ervan Bambang Dermanto, salah seorang warga Kepek I.

Menurut dia, hingga sekarang masih ada satu keluarga yang mengungsi karena takut dengan kemunculan hewan berbisa.

“Bagaimana mereka tidak khawatir? Anak kobra ditemukan di dalam kamar dan di teras rumah, padahal di keluarga itu ada anak kecil,” katanya.

Kepala Laboratorium Biologi UGM Donan Satriya Yudha meminta masyarakat tidak panik. Menurutnya, ada beberapa cara untuk mencegah ular masuk ke dalam rumah. Warga bisa membuatkan tempat persembunyian palsu dari tumpukan kayu atau genting tak terpakai di dekat rumah. Tempat persembunyian palsu ini penting karena ular mendekat ke perumahan karena ingin mencari tempat persembunyian yang nyaman. Salah satunya dengan masuk ke rumah atau di sekitar perkarangan.

“Ular hampir sama dengan manusia. Saat panas mencari tempat teduh untuk berlindung dan rumah menjadi tempat yang jadi tujuan,” ujarnya, Jumat (6/12/2019).

Donan mengatakan lokasi di sekitar rumah sangat strategis bagi kobra karena menyediakan banyak makanan, seperti tikus, cicak, atau hewan pengerat lainnya.

“Kalau panas, sering ada ular yang keluar mencari tempat yang teduh,” katanya.

Mencegah kobra masuk ke rumah juga bisa dilakukan dengan menaruh benda berbau menyengat seperti parfum, kapur barus atau minyak tanah di sekitar tempat yang berpotensi menjadi lokasi ular masuk rumah.

“Garam bukan solusi, karena tempat yang ditaburi garam akan dilewati saja oleh kobra. Tapi kalau bau-bau yang menyengat seperti kapur barus, ular akan menyingkir karena tidak tahan dengan baunya,” katanya.

Donan Satriya Yudha mengatakan kemunculan anak ular kobra di akhir tahun merupakan hal yang wajar. Penyebabnya, dalam siklus perkembangan kobra, ular berbisa itu menetaskan telur pada Oktober hingga November.

“Memang sudah siklusnya, saat akhir tahun ada penetasan telur-telur kobra,” kata Donan.

Menurut dia, anak ular kobra berada di permukiman warga karena habitat mereka di alam liar mulai terdesak keberadaan manusia. Oleh karena itu, hewan-hewan ini mencari tempat yang lebih aman. “Tidak hanya ular, monyet maupun harimau saat habitatnya terganggu pasti akan mendekat ke permukiman warga,” katanya.

Kepala Dusun Kepek I Sukirno mengatakan tiap akhir November sampai dengan awal Desember sejak empat tahun terakhir , anak kobra berukuran sekitar 30 cm sering muncul di RT 6.

Ular tersebut tak hanya melata di pekarangan, tetapi juga di kamar warga. Bahkan salah satu keluarga sampai mengungsi ke rumah mertua karena kamar mereka kemasukan anak kobra.

“Keluarga itu memiliki anak kecil,”

Dari 2017 sampai 2018, warga RT setempat menangkap sekitar 49 anak kobra. “Induknya belum tertangkap. Warga takut. Kalau induk dibiarkan populasinya bertambah banyak,” kataya.

Sukirno mengatakan warga bahkan mendatangkan paranormal untuk mencari sarang kobra. Anak kobra kali pertama terlihat terlihat dan ditangkap di Kepek I pada 2016. Awalnya warga menganggapnya biasa. Namun, anak kobra terus muncul dan tambah banyak, khususnya saat akhir tahun. Warga sudah sering mendatangkan pawang dan juga komunitas penyuka reptil untuk menemukan ular kobra yang membiakkan belasan anak kobra.