Hantavirus Belum Ditemukan di Gunungkidul, Warga Tetap Diminta Waspada
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
Gito Suwarno, seorang petani di Dusun Karanggumuk, Desa Kemejing, Kecamatan Semin, memelihara tanaman padi di lahan milikinya, Rabu (22/1/2020)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Petani di Dusun Karanggumuk, Desa Kemejing, Kecamatan Semin, resah karena lebih dari sepekan hujan tak kunjung turun. Kondisi ini diperkirakan akan mengganggu pertumbuhan tanaman padi yang ditanam petani.
Salah seorang petani di Dusun Karanggumuk, Gito Suwarno, mengatakan padi yang ditanam mulai terancam kekeringan. “Sudah hampir 10 hari hujan tak turun dan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman padi,” katanya saat ditemui Harian Jogja, Rabu (22/1/2020).
Menurut dia, dampak dari hujan yang berhenti turun sudah mulai terlihat, di mana tanaman padi mulai mengering. Selain itu, pertumbuhan juga terganggu meski penanaman dilakukan di waktu bersamaan. Sebagai contoh, di satu petak lahan miliknya, sebagian tanaman ada yang masih subur, sementara di bagian lain ada yang mulai mengering. “Ini belum seberapa karena di petak lain ada padi yang daunnya mulai menguning karena kekurangan air,” katanya.
Gito berharap hujan bisa segera turun sehingga padi yang ditanam mendapat pasokan air sehingga dapat tumbuh subur dan dapat berproduksi maksimal. “Kalau terus mengering susah, padi sulit tumbuh dengan baik,” katanya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul, Raharjo Yuwono, membenarkan bahwa wilayah Gunungkidul sempat beberapa hari tidak diguyur hujan. Menurut dia, kondisi ini termasuk anomali cuaca yang dipengaruhi oleh embusan angin dari benua Australia. “Ada anomali cuaca, tapi tidak lama. Buktinya kemarin [Selasa 21/1] sudah ada wilayah yang diguyur hujan,” katanya.
Raharjo memastikan hingga saat ini tidak ada laporan tanaman padi milik petani yang terancam puso. Dari sisi dampak, anomali cuaca ini berdampak terhadap lahan seperti munculnya retakan-retakan tanah hingga daun padi yang mulai mengerut. Hanya, kata dia, hal tersebut masih dalam batas kewajaran karena pasokan air berkurang. “Saat hujan turun, tanaman kembali tumbuh. Untuk retakan tanah, juga belum jadi masalah karena masih ada kandungan air untuk memasok kebutuhan air pada padi,” katanya.
Selain berharap agar hujan segera turun, untuk pemeliharaan lahan pertanian para petani diminta untuk rutin mengamati hama. Hal ini dibutuhkan agar deteksi dilakukan sejak dini sehingga saat ada potensi serangan bisa langsung ditangani. “Jangan sampai parah baru ditangani karena akan berpengaruh terhadap produksi. Untuk antisipasi pengamatan hama harus dilakukan secara berkala,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dinas Kesehatan Gunungkidul memastikan belum ada kasus hantavirus, namun warga diminta menjaga kebersihan dan waspada penularan.
Bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji digelar di Padukuhan Dayakan 2, Kalurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, Rabu (20/5).
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.