Revitalisasi 131 Sekolah Gunungkidul, DPRD Ingatkan Kualitas Bangunan
DPRD Gunungkidul mendukung revitalisasi 131 sekolah pada 2026. Dewan meminta kualitas bangunan dijaga dan mendorong penggunaan kayu jati warga.
Lalu lintas di ruas jalan utama Gunungkidul. /Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Sejumlah tiga warga Gunungkidul masuk dalam kategori orang dalam pemantauan penyakit Corona. Meski demikian, dua warga telah dinyatakan sehat dan terhidar dari ancaman penyakit tersebut.
Kepala Seksi Penyebaran Penyakit Menular, Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Gunungkidul, Diah Prasetyo Rini mengatakan, pihaknya mewaspadai potensi penyebaran penyakit corona di Bumi Handayani. Meski demikian, hingga saat ini belum ada temuan kasus.
"Untuk kasus belum ada, tapi untuk kategori orang dalam pemantauan ada yang diawasi. Namun pengawasan masih sebatas di lingkungan rumah karena ketiganya hanya menjalani rawat jalan," kata Diah kepada wartawan, Sabtu (14/3/2020).
Menurut dia, ada tiga orang yang dalam pemantauan. Ketiganya dipantau karena baru kembali dari luar negeri. Dugaan muncul karena ketiganya sempat mengalami sakit flu dan demam. "Mereka ada yang pulang dari Jepang, Malaysia dan Arab Saudi," ungkapnya.
Diah menambahkan, untuk pemantauan juga melibatkan tim dari puskesmas serta RSUD Wonosari. Meski demikian, setelah dipantau selama 14 hari, dua orang dinyatakan sehat dan tidak terpapar penyakit itu.
"Tinggal satu warga yang baru saja umrah. Rencananya akan dipantau hingga 17 Maret, karena pulang 3 Maret. Jadi masih ada waktu empat hari untuk memantaunya," ungkap Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Gunungkidul ini.
Dokter Spesialis Paru, RSUD Wisnu Kuncoro Mukti mengatakan, pihaknya sempat merawat pasien orang dalam pemantauan penyakit corona. Pasien ini dipantau karena sehabis menjalankan ibadah umrah mengalami gejala demam dan flu. "Masuk Minggu [8/3/2020] lalu, tapi setelah dirawat dua hari kondisinya membaik sehingga diperbolehkan pulang," katanya.
Meski harus menjalani rawat jalan, namun tidak serta merta pasien tersebut lepas dari pengawasan. Untuk pemantauan dilakukab kerjasama denga puskesmas setempat. Selain itu, pasien tersebut juga dilarang beraktivitas di luar rumah. "Kami juga meminta agar keluarga menyediakan ruangan khusus," katanya.
Dia menjelaskan, RSUD Wonosari tidak menjadi rujukan utama corona, meski demikian upaya antisipasi terus dilakukan. Guna penanganan telah disediakan dua ruangan untuk isolasi perawatan pasien. "Kami juga telah menetapkan standar perawatan selama pasien ditangani di IGD," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendukung revitalisasi 131 sekolah pada 2026. Dewan meminta kualitas bangunan dijaga dan mendorong penggunaan kayu jati warga.
DPRD Jogja meminta Rippar 2026–2045 tak hanya mengejar jumlah wisatawan, tetapi juga lama tinggal, belanja, tenaga kerja, dan lingkungan.
Remaja 17 tahun di Berbah, Sleman, dibacok celurit saat pulang memancing. Polisi menangkap dua pelaku yang diduga salah sasaran.
Raja Maroko Mohammed VI menunjuk Fatima Ezzahra El Mansouri sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah negara tersebut.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta agar budaya antikorupsi selalu melekat dalam diri Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan kerjanya.
Angka pernikahan di Kulonprogo terus menurun. Kemenag menyebut kesiapan dan penurunan jumlah penduduk menjadi sejumlah faktornya.